Biarkan Teman Imajiner Saya, Jangan Sirik!!!

Misalnya nih…

Misalnya lho… Saya adalah seorang bujang lapuk hopeless yang cuma punya pacar khayalan. Wajah cantikNya yang agak mirip celsea islan, saya bingkai dengan mewah. Wajah terbingkai itu selalu saya puja sebelum mandi dan saya peluk sebelum tidur. Walau dia  hanya ada dalam imajinasi saya sendiri, tapi keberadaannya saya jadikan motivasi untuk berbuat baik. Setiap perbuatan baik, saya jadikan persembahan bagi Dia Yang Terbingkai. Lalu semenah – menah anda muncul dengan sok tahu. 

Menjelaskan bahwa pacar saya itu cuma hayalan. Mengatai saya sedang berdelusi. Memvonis saya mencandu ilusi. Lantas dengan jumawa menyuruh saya segera sadar dan melupakanNya.
Dalam kasus seperti itu berarti Anda KURANG AJAR. 

Seenaknya mengintervensi keyakinan saya. Padahal keyakinan saya tidak merugikan Anda. Saya jelas tersinggung jika sumber semangat hidup saya, tujuan hidup saya, diganggu dan dipertanyakan.
Idealnya memang manusia tak bergantung pada tokoh-tokoh imajiner. Tapi kan, nyatanya tak semua bisa begitu. Menggeneralisir bodoh seperti itu sama saja seperti membenarkan seorang pendiri pabrik dildo yang memaki pengemis: “Pemalas! Jangan cuma ngemis! Sana bikin pabrik dildo sendiri!” Analoginya memang maksa, tapi Anda dapat maksudnya kan?
Generalisir bahwa semua orang dapat mandiri, itu gila. Kapasitas dan kesempatan orang berbeda. Adalah kenyataan bahwa tak semua manusia berhasil mandiri apalagi sampai bikin pabrik dildo sendiri. Banyak dari kita yang selamanya bergantung pada pihak lain. Ketergantungan bisa secara finansial, emosional, seksual, spiritual, dsb. Tempat bergelantungannya juga bisa sesama manusia, bisa teman imajiner, atau guru-guru berkualitas superhuman. Atau candu-candu.

Bagi kami yang suka bergelantungan pada teman imajiner, yang terpenting adalah tujuan dan semangat hidup yang kami dapatkan. Dan siapapun boleh saja mengklaim keberadaan apapun. Anda boleh beriman bahwa di luar angkasa ada vagina maha sempit yang selalu menghisap apapun kedalamnya, bahkan cahaya sekalipun. Atau meyakini bahwa di pusat bumi ada penis maha keras yang terus menerus memuntahkan magma. Tidak perlu ribut soal bukti yang mendukung (atau menentang) keberadaannya. Yang penting diimani, lalu berbuat baik dengan semangat pengabdian yang didapat dari keyakinan itu. Keyakinan saya pada keberadaan Tuhan, atau keyakinan Anda pada Dewa, Poci Sakti, Monster Spagheti dan apapun yang dianggap Maha Suci adalah salah satu diantara hak yang paling asasi. Hak beribadah juga asasi tidak jadi masalah walau Sang Hyang Pacar Imajiner saya mulai bikin perintah aneh-aneh untuk diterapkan. Misal, pacar imajiner saya minta agar lelaki harus pakai kondom bila keluar tanpa muhrim, yang tidak mau pakai maka tititnya harus dicabut sampai ke akar.

Selama hanya saya sendiri yang mentaati bagi diri saya sendiri, tanpa melanggar hak orang lain, tidak ada masalah. Bahkan jika teman-teman saya ikutan karena merasa senasib atau karena bersimpati pada nasib saya yang kelamaan jomblo sampai hampir gila, itupun tidak ada masalah. Munculnya ulama dan ulamawati yang mengendus-endus peluang dagang kondom juga tidak perlu diributkan.

Tapi…

Jika saya mulai mulai memaksa Anda atau siapapun untuk pakai bungkus karet tiap keluar rumah, apalagi sampai berusaha mengambil alih pemerintahan negara agar aturan suci dari pacar imajiner bisa saya tegakkan dan paksakan atas Anda semua… Maka saya yang pantas disebut kurang ajar. Konyol. Gila. Karena aksi pemaksaan yang mulai saya lakukan, maka Anda juga berhak (dan malah wajib) berusaha menyadarkan saya bahwa aturan gila tersebut tidak perlu dipaksakan ke orang lain. Kalau saya ngotot, Anda berhak untuk mempermasalahkan sumber aturan yang saya imani. Silakan kupas tuntas bagaimana keyakinan saya pada pacar imajiner itu sudah mulai bikin masalah. Ungkap gimana imajinasi saya sudah sampai pada taraf membahayakan masyarakat dan harus diperbaiki. 

Sebaiknya jangan cuma sebatas mengkritik atau dekonstruksi, apalagi sekedar menghujat. Cobalah kreatif dan memberi solusi. Berikan pada saya alternatif tempat bergelantungan yang lebih sehat agar tak lagi tergantung pada pacar imajiner yang sifatnya sangat merusak. Sukur-sukur kalau bisa mengubah saya jadi berani mandiri tanpa tergantung pada pacar imajiner.

Penting…
Jangan pernah tanpa alasan mempermasalahkan eksistensi pacar imajiner pujaan saya. Mendadak usil itu tampak seperti preemptive attack ala kafir paranoid. Hanya membuat Anda tampak seperti orang jahil kurang kerjaan. Hasilnya cuma ketersinggungan. Kemarahan. Kebencian. Dan perlawanan.

Harus jelas apa sebabnya anda harus usil. Jika saya dapat memahami bahwa kritik Anda adalah respon akibat saya memaksakan aturan gila, bukan semata usil, maka ada harapan untuk terjadinya dialog yang konstruktif diantara kita. Bahkan walau saya terlanjur bermutasi jadi fundamentalis haus darah, yang anti dialog, yang terobsesi maksa-maksa…. Tetap Anda punya harapan lebih besar untuk menyadarkan orang-orang yang bersimpati pada saya. Karena disitu posisi Anda adalah korban terzalimi yang membela diri, bukan agressor iseng yang menyerang dengan arogan. Para penyimak akan terpicu untuk berpikir, dan dapat melihat bahwa sayalah yang punya masalah kejiwaan, bukan anda yang jahil dan kurang kerjaan.

Mengkritisi berbagai pemaksaan dan penindasan akibat ajaran agama atau kecanduan rokok atau sebab apapun lainnya, sebaiknya juga mempertimbangkan saran-saran diatas,
 hehe.

Demikian.

Keracunan Internet, Sosmed, Idealistic Melting.

Semakin kesini kok semakin malas berpikir. Lihat berita menarik, langsung klik share. Kalaupun komentar sedikit, ujungnya tetap share. Tombol untuk mensosialisasikan apapun jadi fokus utama dari kegiatan online.

Jadinya seperti buruh rendahan di institusi pendidikan komersial yang kerjanya hanya meneruskan informasi. Sama-sama tanpa dicerna. Bedanya adalah mereka dibayar dan tampak keren, saya tidak.

Parahnya, baru klik share, atau like, sudah datang lagi gelombang informasi yang tak akan ada habisnya. Dan saya terus mangap, melahap semuanya dengan tatapan kosong.

Hari-hari yang mestinya meditatif dan kreatif berubah jadi hari sibuk tak jelas. Kebanjiran informasi. Seperti orang yang tak sadar makan terus dengan buasnya, terus menelan apapun hingga perut tak sempat mencerna. Sukses obesitas tanpa ada energi yang sampai ke otak, habis untuk jadi timbunan lemak… Eh… Timbunan informasi tak berguna.

Waktunya kembali ke ruang nakhoda. Lama sudah tak pegang kendali.

Saya sih pilih sipil ^ ^

​”Dipimpin militer atau sipil?”
“Ya gimanapun pilih sipil lah! Kecuali kalau lawannya kaum radikal, baru gw pilih militer” Masih begitu terus pendapat banyak orang di banyak forum. Jadi wajar kalau militer selalu punya hubungan benci tapi cinta dengan kelompok radikal. Wajahnya kelihatan tak akur, tapi sering dicurigai ikut mendanai, membiarkan, atau diam-diam giat melestarikan.

“Usut siapa dibelakangnya, cari tahu siapa yang mendanai!” kata siapa itu, lupa saya…heheee…yang sepertinya yakin betul bahwa Polisi sebenarnya juga sudah tahu.

Mungkin benar, selama ini juga sudah tahu, tapi ya karena itu tadi. Terror dan kekacauan yang ditimbulkan kelompok radikal, memang menguntungkan militer. Memang berat sekali, kalau kita harus menolak sesuatu yang sangat lezat dan menguntungkan kita. Pasti lebih berat dari menolak keperawanan.

Jangan salah pilih, kita bosnya. Jika ada yang salah dalam sebuah instansi demokrasi berarti yang bodoh adalah kita yang memilih, kita sebagai bosnya demokrasi itu sendiri. Mereka yang duduk di ruang ber-ac dan beratribut rapi adalah pembantu kita.
Siapapun pemimpinya harus bisa berlapangdada untuk pekalah, jangan anarki !!! Pemenang sesungguhnya adalah mereka yang dewasa dalam hal pemikiran serta tindakan.
C…U
^___^

Bukan saatnya untuk memuja kelamin belaka !!!

​Kapan nih kita ketemuan? Udah lama tidak memuja kelamin bareng-bareng..

Bukankah kita sudah terlalu dewasa untuk itu?



Terlalu dewasa untuk memuja kelamin? Lu masih normal kan?

Ya masih. Tapi kita sudah dewasa, memuja-muja itu kan bagi mereka yang belum cukup umur.



Maksud lu?

Ya persis seperti bertuhan. Memuja-muja tanpa menyentuh, sambil teriak-teriak, itu cuma dilakukan oleh mereka yang belum dewasa. Sekedar ditunaikan membabibuta demi mimpi mendapat surga di alam kapan-kapan kalau sudah mati.

Emang kalau dewasa gimana?

Mereka yang dewasa tidak lagi sebatas menjerit-pilu-memuja Tuhan dari jauh, tapi levelnya sudah memeluk erat dan mencengkeram leher Tuhan, lalu menggunakannya untuk meraih surga. Sekarang juga di dunia. Tidak perlu menunggu mati dulu.

Haaa, kok bisa? Menggunakan Tuhan untuk meraih surga saat ini juga? Gimana tu?

Orang yang keberketuhanannya sudah dewasa mampu mengarahkan Tuhan untuk memanipulasi pikiran orang yang belum dewasa. Di bawah kendali mereka, Tuhan bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, mulai dari menimbulkan rasa damai, semangat, optimisme, rasa syukur… dan bisa juga untuk membangkitkan kebencian, kemarahan dan memicu amuk massa.




Ah, teoriiii… Ada contoh nyata?

Lha itu, pemimpin ormas pecinta kekerasan. Perhatikan betapa lihai mereka membangkitkan kebencian dan kemarahan. Mereka mampu memanfaatkan Tuhan untuk memicu murka ribuan massa agar menyerang siapapun yang mereka tak suka. Perhatikan juga gimana motivator rohani lihai jualan Tuhan sehingga seminar-seminarnya laku keras. Atau penceramah kampung yang suka blokir jalan sampai lu susah pulang, atau suka jerit-jerit di panggung sampai bikin lu susah tidur, dia itu pandai menggunakan Tuhan untuk meraup beramplop-amplop rupiah. Atau yang baik, mampu menggunakan Tuhan untuk mengumpulkan milyaran rupiah demi membantu fakir miskin yang ditelantarkan negara.

Yeee, itu agama kaleee, bukan Tuhan.

Apa bedanya? Ketika sesuatu dianggap sebagai paling suci, bukankah itu menjadi Tuhan? Lagian yang gw bahas bukan “Tuhan itu apa”, tapi bagaimana “bertuhan”, secara lugu dan secara dewasa, dalam rangka menjelaskan tuduhan gw atas proposal pemujaan kelamin lu ituuuh… 

Ooooh, ok. Kenapa gw tersesat ya barusan, hehe. Trus kaitannya apa sama pemujaan kelamin? Cara memuja yang dewasa tu gimana?

Ya jangan cuma dipuja-puja. Tapi dipakai. Pergunakan secara tepat untuk meraih tujuan-tujuan lu. Untuk menciptakan surga di bumi 🙂

I see…. Tentunya surga versi gw ya?

Tul! Gih sana cari partner atau cari umat!




Dasar setan.!!!

Kenapa jadi setan? Gw kan cuma menyampaikan pendapat gw doang.




Ya setahu gw, setan itu simbol keingintahuan, pemberontakan dan kehausan akan pengetahuan. Kisah Adam Hawa tuh, coba ingat. Seandainya Adam dan Hawa tidak tergoda setan untuk “ingin tahu” dan makan buah “pengetahuan”, selamanya manusia cuma jadi budak yang cuma bisa patuh dan taat pada (para pengendali) Tuhan. Tidak bakalan berkembang. Selamanya nyaman dalam surga ketidaktahuan. Untung setan rela berkorban, dimurkai dan dijanjikan neraka yang kekal abadi demi menggoda manusia dengan pengetahuan.

Waw, keren tuh cerita. Memang keingintahuan dan pengetahuan bisa bikin gelisah. Asli neraka banget tuh.




Blah. Ya sudah, kapan nih ketemuan? Sabtu? 

Umm… Kalau Tuhan mengijinkan yaaa…




Ngapain lu melibatkan Tuhan?

Sekedar mempersiapkan Tuhan saja. Kalau ternyata nanti batal ya artinya Tuhan tidak mengijinkan, lu tidak perlu menyalahkan gw yang lugu tak berdosa ini, silakan langsung menyalahkan Tuhan saja, gitu…




Hmmm… baiklah… SETAN!

hahahahaaaa..

Celoteh minoritis indie, marjinal yang merdeka.!! Feodal Songong.!!

“Bebas” dan “Merdeka” itu saudara kembar. Tapi saya lebih suka yang terakhir kata “merdeka”. Rasanya lebih kaya. Juga kalau dibanding dengan padanannya dalam bahasa Inggris, “ free” atau “ liberal ”. Sebenarnya saya kasihan dengan kata “ liberal ”, yang sering diperlakukan tidak adil di Indonesia. Untuk beberapa kalangan kata ini sepertinya masuk golongan paria. Kasihan deh.

Saya agak kurang sreg dengan kata “bebas” karena kata bebas sudah dipoligami dengan tidak senonoh oleh orde baru sampai kehilangan identitas dan harus hidup satu atap dengan madunya “tanggungjawab”, “kebebasan yang bertanggungjawab”, mirip istri tua dan istri muda yang tak rukun. Ya ada rukunnya, kadang. Tapi masalahnya, siapa yang menentukan ukuran tanggungjawab itu? Bos di kantor. Guru di sekolah. Orangtua di rumah. Penguasa. Politikus. Ketua Partai. Ketua Forum. Ketua Dewan. Massa yang mengamuk ? Istilah “bebas yang bertanggungjawab” itu rawan dimanipulasi oleh mereka yang syahwat kekuasaannya over dosis.

(Intermezzo: tahukah Anda kata Indonesia yang diserap dalam bahasa Inggris? Yang saya tahu ada 4: “ sarong”, “ orangutan ”, “ sate ” dan “ amok ”. Kalau dijadikan satu, jadilah gambaran sinis tentang masyarakat Indonesia yang suka muncul di berita-berita asing: orang utan yang sudah pakai sarung, suka mengamuk dan menyate! )
Nah, kata “merdeka” rasanya masih lebih aman, setidaknya sampai sekarang. Silakan tempelkan kata itu ditempat dia suka. Berpikir merdeka. Bertindak merdeka. Menulis merdeka. Dan seterusnya, silakan merdeka dalam menggunakan kata merdeka, semerdeka-merdekanyalah.
Merdeka tentu tidak sama dengan berbuat semaunya. Mau terbang. Emang bisa? Jelas gak bisa.

Buat saya, merdeka itu artinya bukan itu. Saya punya pikiran, punya tubuh, punya masa lalu-kini-nanti. Betul, semua itu terbatas. Tapi dimana batasnya? Saya tidak pernah tahu batasnya. Hanya kalau saya melakukan eksplorasi, menyelami rahasia-rahasianya, saya mungkin ketemu batasnya. Tapi sampai sekarang saya belum sampai tuh ke perbatasan kemanusiaan saya. Saya percaya Tuhan Serba Maha. Dan saya ingin mengenalNya dengan cara mengeksplorasi apa yang sudah diberikan. Saya tidak sedang menantangNya. Saya sedang bersyukur, mengagumiNya kok dengan melakukan wisata ekplorasi ini.

Bagi saya merdeka, berarti mengeksplorasi pikiran, bakat, tubuh, hati, alam sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya. Saya mau pergi sampai keperbatasan saya. Itulah merdeka. Dengan semangat seperti itu, saya membaca semua teks-teks suci maupun tidak suci, surfing semua web yang senonoh maupun tidak senonoh, bertemu dengan tokoh besar atau kecil, yang buat saya semuanya besar dan memperkaya saya. Pokoknya siapa saja, termasuk membuka blog anda para bloggers yang suka kasih komentar maupun tidak. Anda tahu saya suka menjenguk dan memberi salam di blog Anda.

Ketika saya memilih menjadi merdeka itulah saya bisa bertemu dengan banyak pemikiran, keahlian dan permenungan yang justru memperkaya saya. Saya, anda, kita, memang terbatas. Tetapi ternyata batas saya terus diperluas, diperlebar, dan diperdalam, ketika saya mau menjadi merdeka. Lalu, apalagi akhirnya, kalau bukan saya malah tambah kagum dan hormat padaNya dan pada anda semua yang terus memperkaya kemanusian saya? So, mari berpikir merdeka, bertindak merdeka dan menulis merdeka.

Ada yang gak setuju? Terserah lah kalau masih juga ada yang mau mengharamkan. Tapi kalau tidak boleh pakai kata merdeka, emang kita mau dijajah Belanda lagi?

Hinadina Toleransi Bobrok Jelata Tolol, Bisa Apa ??!!!

Berbagai ketakutan atau keengganan yang terasa setiap kali ingin mengatakan atau melakukan yang benar itu sebabnya apa kalau bukan dalam rangka jualan? Takut dagangan ndak laku.
Yang dijual? Ya harga diri, untuk memuaskan lawan transaksi, demi dapat keuntungan berupa kenyamanan dan keamanan.

Waktu Pak Bos ngajak korup, tak berani bantah karena dapat mengancam keberlangsungan nafkah, mengganggu kelanjutan karir. Waktu Bu Ustajah berisik merem melek pake toa, juga takut protes, karena bisa dimarahi dan dibenci emak-emak sekampung. Waktu ada orang merokok dalam angkot, juga takut untuk memperingatkan, karena bisa mengancam citra kita sebagai jelata tolol yang saling nrimo dan bertoleransi.

Memang sejak kecil kita didoktrin untuk toleran, ramah, jadi bangsa yang ramah dan pengertian pada siapapun.Untuk selalu takut menyinggung perasaan orang. Saking kelewat ramahnya, di salah satu kampung di antaberanta sana, guru relijius yang meyodomi beberapa anak kecil cuma diusir, bukan dihukum. Mungkin takut menyinggung perasaan si tukang sodomi, tanpa memikirkan perasaan korban-korbannya :))

Nah, waktu itu pernah saya baca entah di mana, Ahok kurang lebih bilang gini: “1000 orang teman masih kurang, 1 musuh sudah kebanyakan…. Itu faham para pedagang. Tapi kalau mau membersihkan sistem yang korup, tiap hari kita bisa menciptakan 1000 musuh.”

Wah, bener juga ya. Dalam sistem yang busuk, mengusahakan kebenaran pasti mengancam nafkah orang yang hidupnya dari kebusukan. Lha kita saja sering rela jual harga diri demi kenyamanan dan keamanan, apalagi orang-orang yang kebahagiaan hidupnya bergantung pada lestarinya kebusukan? Jadi kalau situ orang bener ya ga usah manja atau sok njawani. Dapet musuh itu niscaya, nikmati aja.

Musim Kawin, Menikah itu harus katanya…

​Tempo hari saat terjebak di suatu tempat yang tak penting, saya berhasil membuka Instagram lewat ponsel dan gatal-gatal karena membaca update beberapa teman tentang pernikahan. Membuat gatal karena quotes tersebut mengingatkan saya pada beberapa gadis yang saat ini sedang resah mencari pasangan hidup. Saya merasakan, para gadis pencari suami yang membacanya akan semakin dirundung gelisah. Weits, tidak, saya tidak sedang sok empatik atau carmuk lho! *penyangkalan*.

Sayangnya, internet di ponsel belum mengijinkan saya berkomentar (malahan tidak mengijinkan saya melanjutkan browsing).

Esoknya di rumah, masih dengan ponsel hanya saja sudah mendapat dukungan 4G , dengan kondisi sudah tercekik overquota, saya coba cari lagi thread tersebut. Dan gagal lagi karena saya bukan termasuk kaum yang sabar menghadapi timeout yang repetitif.
Eh, ini mau gosip soal kawin atau mau mengutuki takdir fakir benwit sih? Hehe, tentu saja bukan keduanya. Saya ini mau melunturkan mantra.

Sekarang, dengan koneksi yang semoga lebih baik, saya kembali ke topik sambil menjadikan masalah ini sebagai update blog daripada blog saya terlantar lalu berhantu.

Isi quotesnya kurang lebih menyatakan bahwa dengan menikah kita mendapat banyak pelajaran baru, mengembangkan dan meningkatkan kualitas diri, lebih berani menghadapi hidup dan jadi pribadi yang lebih bertanggung jawab terhadap komitmen. Dan kalau tak salah ujung-ujungnya mengajak agar yang belum menikah untuk segera menikah tapi semua disampaikan dengan cara yang agak sesuatu gitu . Dengan sudut pandang bias seorang yang belum menikah, saya langsung merasa diserang. Status itu jadi tampak err… rasis? Eh, apa ya? Sentimen antar ras disebut rasis, lalu kalau sentimen antara yang menikah dan belum menikah apa? Kawinis? Kawis? Apapun lah. Yang jelas status itu terasa meninggikan derajat mereka yang sudah menikah sambil merendahkan mereka yang belum/tidak menikah. 

Diperparah dengan jawaban dari mayoritas yang isi komentarnya menyindir mereka yang takut menikah. Beliau bilang bahwa orang yang takut menikah itu sama seperti menggunakan kaos kaki ukuran orang lain. Atau semacam itu. Yang pasti isinya terasa memperluas serangan, jadi tak sekedar menggelisahkan mereka yang desperate belum dapat pasangan, tapi juga pada mereka yang belum tertarik menikah.

Karena itulah saya merasa perlu untuk breaking the spell , membatalkan kesaktian dari pernyataan-pernyataan intimidatif dari para yth tersebut. Semoga bisa jadi pelipur lara untuk mereka yang belum menemukan pasangan atau yang belum tertarik menikah 🙂

Pertama
, soal anggapan bahwa pernikahan memberi pelajaran baru dan bla-bla lain yang berkonotasi baik. Itu benar. TAPI pernyataan itu juga benar saat kita terjun dalam apapun yang lain. Berteman dengan orang baru, bekerja di kantor baru, buka lapak usaha baru, buka ladang baru, dan apapun yang baru. Semua pasti memberi kita pelajaran-pelajaran baru. Termasuk jika memilih untuk tidak menikah ketika mayoritas orang menikah, itu pun bakal memberi banyak pelajaran baru. Tentu HANYA jika orangnya mampu dan mau reseptif terhadap pelajaran-pelajaran yang hadir sepanjang perjalanan. Kalau orangnya bebal dungu, sibuk menyesali nasib dan menuhankan selera mayoritas/orang lain, ya itulah takdir seorang budak. Menikah ataupun tidak, budak tetaplah budak. *apasih* 

Kedua , soal menumbuhkan tanggung jawab dan berkomitmen. Yatuhan, pleeeaase deh, itu juga benar sekaligus bisa tidak benar untuk apapun yang lain. Pernah ketemu sama orang yang buka bisnis baru lalu males ngurus? Atau daftar kuliah lalu mutung gak pernah masuk? Atau berjanji dan tak menepati? Dalam pernikahan yang sangat melatih tanggung jawab dan komitmen itu juga banyak orang yang ternyata tidak berubah jadi lebih bertanggung jawab. Yang jadi semakin liar juga banyak. Tidak sekedar mutung pisah ranjang, cerai, atau yang selingkuh diam-diam, banyak juga kok pasangan awet rajet yang merokok/mencandu sambil mengasapi anak-anaknya, meracuni dan ngajarin ga bener pada darah dagingnya sendiri. Sungguh bertanggungjawab sekali kan mereka-mereka itu? Hehe. Jika orangnya memang tidak mau berubah jadi lebih bertanggung jawab, tetap egois dan taat menyembah candu, mau lajang kesepian atau kawin berulang-ulang, selamanya ya akan tetap seperti itu.


Ketiga
, soal rasa takut yang muncul karena melihat kegagalan orang lain itu wajar kok. Kita takut ngebut, takut ditolak, takut pakai baju aneh, takut berwirausaha, takut beda dari mayoritas dan takut-takut yang lain. Mungkin rasa itu muncul karena melihat kegagalan / kecelakaan / kekonyolan orang lain. Atau juga karena kita memang takut terjun ke dalam hal baru. Kita takut terhadap banyak hal selain menikah, tidak perlu terlalu tersinggung ketika diolok-olok sebagai orang yang takut nikah. Andai saya sudah menikah lalu meledek Anda yang jomblo kesepian sebagai seorang yang takut nikah, pastilah bukan karena saya tahu kondisi dan alasan Anda yang sebenarnya, saya tak maha tahu. Saya meledek itu kalau bukan karena becanda, mungkin karena saya sedang dirundung ragu dan butuh penguatan diri. Rasa bangga sebagai orang berani menikah, akan jadi semacam placebo yang membantu saya untuk bertahan dalam pernikahan yang mungkin tidak seindah yang saya bayangkan sebelumnya. Lebih indah, atau lebih parah.

Keempat
, … eh, habis ya? Ya sudah, kesimpulan saja…

Jadi
, setiap kali Anda –para lajang dan jomblo kesepian– merasa terintimidasi oleh kalimat-kalimat terkesan sakti yang mempromosikan pernikahan, bedah saja pernyataannya. Mungkin sekali itu bermotif komersil atau sekedar deepity saja. Tapi hati-hati, jangan langsung dibantah semena-mena, bisa jadi si pembuat pernyataan sedang membully anda karena dirinya juga butuh penguatan untuk bertahan dalam pernikahan. Atau secara tidak langsung sedang memanipulasi pasangannya agar bertahan dalam pernikahan. Jika Anda bantah, bisa-bisa Anda menjerumuskan orang ke dalam perceraian.

Ingat, apa yang disatukan Tuhan, tak bisa dipisahkan manusia! Jadi kalau ternyata pisah juga, ya itu pasti kerjaan Tuhan, bukan salah manusianya.
Dan sedikit saran untuk kita semua yang ingin mempromosikan pernikahan, daripada bikin pembenaran aneh-aneh, mungkin lebih efektif mengutip atau memelintir ujaran-ujaran suci saja. Bilang kalau lajang itu tak disukai Tuhan yang maha esa, sedangkan menikah itu berpahala dan bisa masuk surga berkali-kali. Korban pasti lebih terintimidasi, plus kita juga merasa lebih berpahala. Pasangan yang ingin kita nikahi juga akan lebih tergerak hatinya.

Atau, bawa-bawa evolusi dan gunakan argumen berkembang biak. Spesies yang bisa bertahan sampai sekarang jelaslah hanya yang paling berhasil beranak pinak. Siapapun yang gagal bikin anak, tidak bakal ada kelanjutannya, pasti punah ditelan sejarah.

Selamat melanjutkan aktivitas, jangan lupa bikin anak 🙂

Salam Hangat untuk yang sedang hornymoon.
^____^