Menyebrang Haluan (tentang diri)

image

Setiap kali mendengar kata “mainstream“, saya seakan ingin cepat terbangun dari tidur saya. Dan lekas keluar dari sana. Karna di dalam sana sungguh sangat membosankan, keseragaman beberapa golongan. Pembahasan yg cuma itu-itu saja. Langkah yg begitu-begitu melulu. Seolah di semesta tak ada lagi warna yang menarik selain mainstream itu sendiri.

Mungkin karna gaya hidup yang serba kecukupan dan sifat borjuis saat muda dulu membuat saya selalu memberontak. Bahwa mekanisme hidup gak harus sama seperti kebanyakan lainya. Karna saya percaya bahwa idealisme yang dipakai sudah benar (berbeda tapi damai, melangkah maju tak acuhkan masalalu) hanya saja ruang untuk bergerak masih kurang. Kesempatan untuk merubah perspektif diri terhalang karna beberapa kali harus kehilangan mood di tengah jalan.

Beberapa teman mengingatkan sekaligus menguatkan ;

A : Kau lelah kawan, mari sedikit lepas bebanmu dan mulailah membaur. Kita sendiri, melawan peradaban yang bengis. Ikuti alurnya.

B : Akan tiba saatnya untuk pukul balik momentum, pasti ada celah untuk membuka ruang, telanjangi semua kepalsuan belantara peradaban. Kau hanya perlu istirahat bukan berhenti untuk selamanya. Lanjutkan.

C : Tak perlu mood bagus untuk runtuhkan peradaban, hanya perlu logika tinggi. Jangan campur adukan tujuan dan keinginan, tujuan harus tetap berjalan keinginan bisa ditunda. Biarkan hatimu beku dan mati, penguasa tak perlu di kasihani. Pemberontak tak berhati.

D : Mari duduk bersama dalam lingkar dunia yang tak terbatas, lihat betapa angkuhnya mereka bahagia menikmati sorga dunia, kita bukan siapa-siapa untuk apa capek-capek melawan. Jika mengikuti sudah membuat kenyang dan enak.

Sebenarnya masih banyak lagi tanggapan-tanggapan yang lain dari teman sesama bloger via email ataupun teman-teman ngopi saat santai. Hanya saja tidak memungkinkan jika harus di ungkap semua. Ada yang mengaminkan dan tak sedikit yang menyalahkan. Tapi lebih banyak yang menyalahkan, karna “mainstream” itu sendiri sejatinya bukan utk dilawan namun cukup tak perlu diikuti. Stay Enjoy in The Moment, (Bukan) Fake is Enjoy in The Hype.

Ya, memang sudah seharusnya begitu. Ibaratkan mainstream adalah gunung, Jika badai tak mampu runtuhkan gunung, jadilah air yang mengalir yang membawa mineral gunung. Lalu endapkan hingga menjadi gunung baru. Saat itu terbentuk fundamental benar-benar kokoh menjulang tinggi ke langit, perubahan paradigma bisa diperhitungkan. Saatnya serangan frontal di lakukan, “mainstream” (lama) vs “mainstream” (baru).

Selamat Datang Peradaban Baru, Paradigma Baru, Para Pengubah Dunia Baru. (Tapi entah kapan, Semoga cepat terjawab sebelum jemu menunggu, mari bersatu)

Iklan

Penulis: Senja Kelana

Seorang pria yang menyukai senja, tak terikat, bebas terkendali, dan menghargai perbedaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s