Stay Humble in Public

image

Manusia adalah makhluk sosial, yang selalu membutuhkan manusia lainya untuk menjalankan ritme kehidupan. Hanya saja, di era sekarang banyak yang lupa tentang hakikat manusia yang sebenarnya sebagai makhluk sosial. (Ignorance is a bless) Era yang terlalu mendoktrin satu arah, dan itu bukan menjadi rahasia umum, tentang istilah-istilah dangkal yang membuat saya skeptis.

Misal ;
1. Bergaulah dengan orang-orang pintar maka kau akan kaya, (lalu yang bodoh dibiarin aja gitu ? Biar tetap bodoh dan terus miskin) diskriminasi namanya, memang benar hidup harus berbeda untuk menjaga dinamikanya, tapi jika gap-nya terlalu jauh itu gak masuk akal. Kan kasihan.

2. Talk less do more, sedikit bicara banyak bekerja. Istilah ini semacam perbudakan, kita tidak boleh berpikir (yang memang sedikit menyita waktu agar tidak menyesal dalam setiap keputusan yang diambil) dan harus selalu bekerja. Kita bekerja untuk siapa ? Untuk diri sendiri ? Untuk para kapitalis ? Atau untuk siapa. Kenapa bicara saja sampai dibatasi. Selama bicara itu membangun untuk lebih maju dimana salahnya.

3. Belum tua / Belum kaya kredibilitasnya diragukan. Generasi tua kita sisa-sisa ORBA (orde baru), apa yang bagus dari orba ? Dan kaya itu buta, mereka berbicara berdasarkan kenyamanan indera perasa mereka, gak mungkin sempat berempati.

Disclaimer !!!

Saya lebih suka memakai kebijakan saya sendiri “Stay Humble in Public” daripada kebijakan orang-orangan zaman bahula tersebut. Kebijakan 2 (dua) arah, bolak balik. Kebijakan yang bisa menyesuaikan kondisi dimana kaki kita dipijakan, kita bukan negara serikat yang seragam, Kita republik yang beragam. Lalu untuk apa perdebatkan sesuatu yang berbeda di bumi indonesia ini, selama gap-nya tidak terlalu jauh, selama masih bisa menghormati satu sama lain. Jangan merasa paling benar, paling suci, lalu bisa menghakimi.

Rangkul mereka yang (mungkin) salah kearah pembenaran dengan cara yang sederhana, berempati. Telanjangi pikiran mereka, dengan diskusi tuk temukan solusi. Hidup ini indah jika kita bisa meletakan diri kita sesuai hakikatnya sebagai makhluk sosial & sesuai dengan tempatnya. Kesampingkan pikiran tentang kaya, miskin, pintar, bodoh dlsb. Kita bukan malaikat yang sempurnah, pun bukan setan yang sesat. Kita manusia mahkluk sosial, sarat dengan khilaf dan dosa.

Note :
Jangan pernah dangkal terhadap sesuatu hal yang terjadi di semesta, karna kehidupan adalah misteri. Tak ada yang tau apa yang akan terjadi esok hari ataupun lusa nanti. Pandai-pandailah meletakan diri dimanapun kalian berada, membaur dengan sekitar namun jangan sampai terhanyut didalamnya. Setiap moment yang tercipta hanya permainan benak belaka. Tak ada kesedihan yang abadi, tak ada pula kebahagiaan yang kekal. Semua datang silih berganti. Sikapi dengan kepala dingin dan hati yang lapang, jadikan dirimu selalu berguna untuk semesta jagad raya.

Semoga bahagia selalu menyertai kalian, senyum adalah penetral segala suasana.

Smile 🙂

Iklan

Penulis: Senja Kelana

Seorang pria yang menyukai senja, tak terikat, bebas terkendali, dan menghargai perbedaan.

2 thoughts on “Stay Humble in Public”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s