Story Of Mantan

image

Mantan itu jodoh orang yang sempat mampir dalam kisah kita, sempat di senangkan & sempat disayangi. Maksud hati semoga bisa langgeng sampai kakek nenek, tapi kehidupan berkata lain. Kita break selama waktu yang tak tersepakati. Hingga lupa untuk continue lagi. Yasudahlah, lupakan. Anggap bukan jodoh.

Mereka semua indah, baik juga menyenangkan. Hanya saja (mungkin) aku yang terlalu brengsek. Terlalu ribet dengan segala logika ku sendiri, yang menganggap mereka pantas mendapat lebih dari (sekedar) ini. “Padahal mungkin, soal hati kadang semua bisa di kompromiin”. Tapi aku selalu menilai mereka terlalu baik untuk diriku yang ini, bisa jadi karna aku terlalu pengecut untuk memulai berkomitmen kali ya (dulu, saat pikiran masih labil masih liar dan susah terkendali) sekarang jelas berbeda, sekarang sudah jauh lebih dewasa dan sehat. “Ah, pembelaan aja” hehee. Mulai dari putri manggali hingga hayati semuanya pernah mengisi kekosongan hari-hari yang penuh dengan dilematik. *aduh*

Aku mengerti, mereka tak pernah tau. Bahwa berkomitmen tak sesimpel itu, ai lope yu, yu lop mi. Kelar urusan. Bukan seperti itu, komitmen itu, harus bisa disepakati oleh semua belah pihak. Bibit bebet bobot perlu juga diperhitungkan. Biar gak jadi gunjingan setelah menjalankan biduk rumah tangga.

Hal-hal di atas, yang menyebutkan perbedaan kita bukan hanya dari satu aspek melainkan, banyak. Bisa materi, bisa kasta, bisa keyakinan, bisa juga ego masing-masing yang masih terlalu tinggi, dlsb. (Terutama aku, apa yang menurut nurani tak sejalan dengan pikiran aku selalu ragu untuk melangkah. Sekalipun itu mungkin untuk hal yang menyenangkan) karna apa yang tercipta dari pola pikiran tanpa memakai hati akan berakhir dengan sakit. Dan senang pikiran itu tidak akan bertahan lama. Karna pikiran manusia adalah fiksi, hanya sebuah ilusi, pikiran manusia masuk dalam kategori ego yang sering terpengaruh oleh kehidupan sekitar kita. Hati berbeda, dia lebih tulus dari pikiran. Karna hati menggerakan orang secara murni, di alam bawa sadar yang jauh lebih dari sekedar manusiawi. Dan akan bertahan hingga bersemi.

Kalimat mark bold terakhir adalah isi, sekaligus menjadi alasan kenapa “para” mantan (mungkin) sering menyebut aku sebagai lelaki brengsek (dulu), awal saat kita memutuskan untuk jalan sendiri-sendiri. Dan pikiran kita masih labil saat itu. Sekarang beda, mantan pada asik. Tak jarang jika kita bertemu pada kesempatan yang tidak tersengaja akan terlontar kalimat basi dari mereka “kamu dicariin mama loh, kapan main kerumah” sambil nyengir gak tau diri. ( Dalam hatiku bertanya, emang mama kamu peduli ? Dulu aja waktu aku singgah kesana cuma air putih suguhanya + tampang jutek yang senyumnya mahal  “____” ) astagfirllah.. Saya khilaf tuhan, maafin. Sudah ah, ngomongin yang lalu malah bikin nambah dosa aja.

Remind You
Oke, sekian dulu narasinya.
Pacaran yang positif, tapi jangan juga sampai (+) positif duluan sebelum ijab qabul terlaksana. penilaian masyarakat kita lebih kejam, daripada teguran tuhan yang maha pengampun

Selamat tidur, semoga mimpi mantan. Eh, salah. Semoga mimpi indah. ^ ^

Iklan

Penulis: Senja Kelana

Seorang pria yang menyukai senja, tak terikat, bebas terkendali, dan menghargai perbedaan.

14 thoughts on “Story Of Mantan”

    1. Hehee, makasih ya.

      Aku kira awalnya malah basi loh ay, tulisan semacam ini. Karna memang kmrn itu seharian blind bgt. Bingung mw bikin artikel apa gt. Heheee.

      Skali lg thx loh ay,
      Have nice day. 🙂

      Disukai oleh 1 orang

  1. Hehee, Setuju yul. Mimpi mantan itu = mimpi tetan kali ya. Kikikikkk

    Tp silahturahmi ttp harus baik loh, yg buruk & yg lalu jgn dijadikan penghalang kita utk jadi lebih baik. Okay. ^ ^

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s