Kebodohan Lalu (Berkaca dalam sendiri)

image

Suratan takdir tak lepas dari intervensi yang maha esa terhadap kita manusia. Hanya saja mungkin kita terlena dengan gemerlapnya dunia hingga melupakan semua kuasa agung miliknya. Takdir tak bisa di rubah, jadi seperti apa pun kita pada akhirnya. Percayalah jika takdir adalah indah. Berbanding terbalik dengan nasib, nasib masih bisa di rubah. Guratan tangan yang terbawa sejak lahir harus bisa di maksimalkan sejak dini. Agar nasib baik memudahkan kita untuk mencapai takdir tuhan yang sudah pasti indah.

Hidup saya memang tak sebecanda itu, tak seserius ini juga. Hanya saja siklus hidup memalukan di kala itu sulit untuk dilupakan. Yang membuat saya selalu mawas diri untuk saat ini (bahwa hidup memang hanya menunda kekalahan sebenarnya), lebih peka terhadap sesuatu yang kalah itu memang menyakitkan. Dan saya gak mau kalah untuk kedua kalinya, cukup saat itu. Saat saya mengabiskan masa remaja saya dengan sia-sia, dengan percuma dan kosong. Biarlah saat ini, mereka bilang saya kampung, saya udik, saya tertinggal. Memang saya terlahir dari keluarga kampung, bukan dari keturunan ningrat, pun bukan dari golongan pejabat. Saya hanya rakyat jelata, bukan siapa-siapa & bukan apa-apa yang pantas untuk di banggakan.

Saya ingin berbenah, bergerak memakai nurani saya bukan berdasar pada ego belaka. Tulisan-tulisan dalam blog ini sekaligus untuk pengevaluasian diri saya. Sudah seberapa jauh saya keluar dari zona nyaman. Sudah seberapa jauh saya (mencoba) taklukan peradaban. Ternyata nihil, saya belum melakukan perubahan apapun, tetap bukan siapa-siapa. Satu, dari jutaan manusia yang akan selalu mendengar, dan berupaya memangkas kesenjangan sosial dalam kehidupan yang nampak seragam. Untuk diri saya sendiri, keluarga saya & lingkungan sekitar saya berada.

Terima kasih untuk semua yang bisa menghargai perbedaan, untuk yang selalu memberi masukan positif, untuk masadepan di ujung negeri biarkan saja tetap menjadi misteri.

Jika belum waktunya mau bergerak seperti apapun akan percuma, tapi jika sudah saatnya kita tidak akan bisa menolak sekalipun kita menjauh untuk memungkirinya.

Itulah kenyataan, kadang harus terpaksa sakit untuk sekedar menatapnya, akan lebih sakit jika merasakanya, jauh jauh lebih sakit jika memikirkanya. Mungkin tidur jalan terbijak, meski kepala mungkin penuh dan sulit terpejam.

Tertidur lebih tepatnya.

Iklan

Penulis: Senja Kelana

Seorang pria yang menyukai senja, tak terikat, bebas terkendali, dan menghargai perbedaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s