Seakut Ini (Nonsense)

image

Jika ada pertemuan sudah seharusnya terjadi perpisahan. Semua hanya soal waktu, cepat atau lambat pasti akan terjadi. Seperti dogma usang yang turun melalui wahyu yang tertulis pada tiap kitab suci, ketika sukma terlepas dari raga kita untuk selamanya adalah hakiki dari proses kematian.

Kehidupan…
Rasa memiliki…
Sakitnya perpisahan…

Sifat manusia yang inkonsisten dalam hidup yang konsisten memang perlu selalu di kaji dan dijadikan pertimbangan untuk sekedar pendewasaan diri. Bahwa segala sesuatu yang ada disemesta ini tidak abadi sebenarnya.

Pahami dengan kepala dingin, jadikan semuanya seperti seharusnya dan sewajarnya ;

Kehidupan ; rotasi semesta yang menciptakan beberapa moment untuk manusia lengkap dengan peradabanya.

Rasa memiliki ; keterikatan akan sesuatu yang memang harus kita jaga, entah sampai berapa lama biarkan tetap samar. Seengaknya bisa jadi stretching otak agar tidak diam dan terus bekerja aktif.

Sakitnya perpisahan ; Pemahaman benak yang memang sulit untuk dipahami oleh orang sehat, mungkin memang perlu gila /sakit dulu baru bisa mengerti. I don’t know. Yang saya tau bisa terasa sakit, karna manusia memiliki hati dan hati seringkali tak sejalan dengan pikiran, rasa keterikatan yang mendalam akan suatu hal yang sulit untuk ditinggalkan.

Beberapa teman memberi komentar ;

Makanya jangan terikat dan jangan pernah mau mengikat diri…kayaknya gila adalah sebuah kebebasan yang paling tercerahkan…

Ada yang sulit dipisahkan dengan kemanutan, namun tak kalah banyaknya juga yg sulit dipisahkan dengan kebodohan…

Penderitaan timbul karena adanya keinginan..ketika harapan tak sesuai keinginan sudah sepantasnya sakit karna merasa kehilangan, dan itu hal wajar…

Sampai tulisan ini berakhir saya sebenernya masih bertanya seakut inikah prosesi perpisahan ? Kenapa tuhan mempertemukan jika harus terpisah ? Adilkah ? Biasakah ? Atau gilakah ? Semua bisa benar tergantung dari sudut mana kita menilai (Nonsense)

Makan dululah, siapa tau setelah kenyang bisa ringan.  ^____^

Iklan

Penulis: Senja Kelana

Seorang pria yang menyukai senja, tak terikat, bebas terkendali, dan menghargai perbedaan.

16 thoughts on “Seakut Ini (Nonsense)”

  1. Aku pergi bukan karna ingin menghancurkan bahagiamu ataupun ingin mencari bahagiaku yang lebih bahagia drpd bersama kamu, melainkan ingin menguji seberapa dewasa diri kita masing-masing.

    Percayalah, takdir tuhan sudah pasti indah. Bersama siapapun itu nantinya yg bersanding denganmu di pelaminan itu adalah takdirmu yg akan menuntunmu disisa akhir hayat ini. ^___^

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s