Menatap masa (depan) bodoh !!!  I Come Back..

​Semangat saya akhir-akhir ini sangat luar biasa menyala. Semangat berpikir, semangat memilah, semangat melangkah. Apa yang terjadi saat ini sangat signifikan perubahanya, mulai dari cara pola pikir yang dulunya absurd sekarang menjadi visioner, dari cara pola tidur yang ketika itu sulit hingga harus tertidur dengan sendiri, sekarang “alhamdullillah” bisa terpejam dengan sedikit sentuhan desisan manja raisa melantunkan lirik, cara menghisap pun jelas berbeda jika dulu ugal-ugalan tanpa kontrol bahkan racun rokok yang busuk pun sempat tertelan sekarang lebih dikontrol dan memilih sehat. Semua itu terjadi tentunya bukan tanpa sebab musabab yang menjadi pertimbangan otak pintar yang ada dalam kepala saya sekaligus pikiran liar saya.

Ada beberapa variable X yang mempengaruhi mindset saya, banyak, tak perlu dijelaskan satu persatu. Intinya semua yang saya lakukan (dulu) adalah kebodohan yang sudah bosan untuk dilakukan saat ini. Usia semakin bertambah tentunya kedewasaan berpikir juga harus lebih paten. Lebih ke “masa bodoh” dengan semua yang ga masuk akal. Tapi bukan berarti tumpul nurani loh, karna saya bukan robot yang hanya bergerak secara systematis, pun bukan binatang yang menghabiskan hidupnya dengan naluri kebuasan. Saya MANUSIA yang selalu menatap masa depan dengan masabodo !!! 

Belajar dari para kapitalis kuwayaraya negeri waralaba partner saya bekerja sekarang yang memiliki aset triliyunan rupiah, dan stigma sosial yang abrahamik kaku, saya memilih untuk berhenti menjadi bodoh, dan memulai menjalankan masadepan dengan masabodo.! Kalian mau nyinyir kosong sampai mulut berbusa, ataupun sekedar menye-menye buang airmata bulus hingga membanjir pun tak akan jadi soal untuk saya. Silakan lakukan menurut keahlian anda masing-masing. Persetan dengan pemenang karbitan, masabodoh dengan pekalah modusan. Sudah terlalu banyak kebohongan yang terlukis dibumi pertiwi ini. Saya enggan untuk mengikuti lantas menambahnya menjadi semakin plastik, kasian bumi tua kita sudah semakin rentan karna keserakahan manusia.

Sepertinya cukup sekian dulu narasi basi ini, sudah waktunya lobi-lobi, jika “goals” saya akan membagi kebahagiaan dengan kawan-kawan, jika tidak pun saya akan tetap berusaha. Doakan. *pray*

Mungkin di lain kesempatan akan saya sertakan ilustrasinya tentang mengapa saya bisa berubah sebegini signifikan, tentunya dalam moment yang lebih menyenangkan. 😀

Okay… 

Selamat menikmati awal pekan..

See You.

^___^ 

[ isi ] Sekte Sakti Senja Kelana Blogger Senior MAHA benar !!! Sebelum Mematikan diri (pemikiran) hendaknya ingin meracuni.

​Kenapa saya jadi malas menulis ?

Ada beberapa jawaban yang bisa dijadikan pembenaran.

Pertama, karena saya kehabisan waktu (terimakasih pada manajemen waktu yang buruk)

Kedua
, karena saya tercerahkan.

Ketiga, karena saya memang aslinya malas.

Dalam tulisan ini, saya memilih jalan tengah, pembenaran kedua. Karena keren. Ngaku “tercerahkan” itu rasanya keren keren gimanaaa gitu…

Terutama tentang ide bahwa ‘setiap orang berhak membual apapun tentang apa yang tidak bisa dibuktikan’. Dalam hal ini, tentang akhirat dan tuhan. Dua hal yang jadi kekuatan utama dari hampir setiap agama.

Berdasarkan pemahaman saya. begini:

Saya bisa katakan pada anak gadis anda seperti ini : “Adik manis yang seksi, nanti setelah mati, ada telaga penuh siksa yang akan menyiksa kamu jika kamu tidak menuruti apa yang saya katakan, dan ada surga yang bisa kamu nikmati jika kamu jadi anak baik dan mau menuruti segala keinginan saya, terutama untuk mengangkang.

Dan, saya juga bisa ajarkan pada anak perawan anda bahwa “Tuhan yang maha bening itu biru, sukanya putih butek, dan benci jika kamu metalik.

Saya bebas ajarkan apapun, seabsurd apapun, sekontradiktif apapun. Pun jika saya cukup cerdas, saya akan sisipkan beberapa hal untuk menimbulkan kesan logis, adil dan bijak.

Anak gadis anda itu tidak akan pernah bisa membuktikan benar atau salahnya pernyataan apapun yang saya buat tentang akhirat. Kecuali dia MATI dulu, melihat akhirat dan membuktikannya sendiri. Saat itu tentu sudah sangat terlambat. Daripada hidup tanpa pegangan, maka bocah seksi itu saya beri saran bijak: “Percaya saja lah, nothing to loose kok. Manut saja sama saya. Kalau nanti ternyata yang saya bilang benar, kamu akan selamat dari pedihnya api neraka.”

Sebenarnya setiap orang punya hak mengarang yang sama. Tapi untungnya kreatifitas orang berbeda-beda. Karena kebetulan anak gadis anda itu tidak hanya vaginanya saja yang masih perawan, tapi pikirannya juga, maka saya rayu dia dengan keseksian saya yang kharismatik.

Keperawanan otaknya saya perkosa berulangkali, saya hujami dengan doktrin, dan dalam gelinjang imannya, saya buat semakin basah dengan semburan ajaran. Tentunya dengan konten yang saya yakini akan menguntungkan seluruh umat manusia, dimulai dari menguntungkan ego saya.

Setiap orang yang meragukan cerita saya, dengan mudah saya todong dengan pernyataan : “Kalau kamu tidak percaya pada kemahabenaran saya, coba saja mati dan buktikan sendiri. Berani hah? Hah? HAH? Nah, tidak berani kan? Kamu takut kan? Itu lah…

Tuhan Yang Maha Benar memang selalu menyelipkan rasa gentar pada setiap orang yang sesat, yang tidak punya pegangan, yang tidak berpegang pada buhul yang kuat! Seluruh kulit mereka akan bergetar karena takut!! Keringat dingin mengucur!! Degup jantung berantakan! Makanya, jangan berani-berani meragukan kebenaran saya yang sejati banget ini!!

Akulah sang hyang tukang penyelamat, kamu jangan berani macem-macem!”

Errr… Barusan itu hanya untuk menjelaskan lho. Cukup Jelas kan?

Yang bisa berbuat seperti itu bukan hanya saya. Tapi setiap orang bisa mengarang, meyakini dan menceritakan ceritanya pada siapapun disekitarnya. Awalnya memang sesederhana itu.

Saat ego, keinginan berkuasa ikut serta dalam permainan, maka semuanya menjadi sedikit lebih rumit. Orang mulai mengarang cerita dengan kadar menakut-nakuti yang lebih intens, dengan tujuan utama membuat orang “bersujud”, “takluk” dan “manut-semanut-manutnya” pada tuntutan cerita.

Beberapa yang lebih ceria memaksimalkan konten “janji muluk”. Sedangkan para moderat dan kompilator ulung yang datang belakangan menggabungkan keduanya untuk mengendalikan manusia. Semuanya berebut umat.

Ego pula yang membuat para pengarang cerita dan peyakinnya merasa cerita mereka lebih baik dari cerita yang lain. Yakin Paling benar. Paling agung dan mulia. Yang lain hanya ecek-ecek, kelas monyet, berasal dari tingkat peradaban yang lebih jahiliyah. Keributan sering terjadi, karena siapa pula yang rela kalau keyakinannya dianggap ecek-ecek atau produk bullshit jahiliyah?

Para Politisi yang kebetulan jadi Penguasa ikut membuatnya jadi benar-benar rumit. Khayalan tentang tuhan dan sesuatu setelah kematian digunakan untuk memperalat manusia. Untuk membuat titah yang mengatur hidup manusia. Sering kali mereka memperlakukan manusia sebagai hewan tak berakal atau lebih rendah dari itu. Yang bisa dikendalikan dengan hanya dengan ancaman-ancaman dan janji-janji muluk yang adanya hanya dalam pikiran..Ancaman dan harapan yang kebenarannya hanya bisa dibuktikan oleh orang yang mati, atau dimatikan.

Menggunakan tuhan dan akhirat sebagai alat bertitah memang cara yang praktis. Misal, saat kita bersabda agar rakyat membuang sampah plastik pada tempatnya, kita tak perlu repot menjabarkan latar belakang titah itu. Cukup ancam dengan api neraka bagi pembangkang, janjikan surga bagi penurut, maka mayoritas akan manut. Ini juga efektif ketika digunakan untuk membuat manusia mau melakukan hal-hal yang absurd, seperti misalnya agar meneriaki atau meledek sesuatu yang mereka yakini sendiri sebagai tuhan.

Apakah dengan ini saya sedang meledek agama, tuhan, dan umatnya sekaligus? Tentu saja tidak. Sama sekali tidak. Ya, Saya justru sedang tercerahkan, ternyata semuanya itu sama-sama benar. Maksud saya, semua klaim tentang akhirat, segala cerita surga dan neraka di alam sana itu ternyata semuanya benar. Tidak mungkin salah. Seatheis apapun, seskeptis apapun anda, anda tak akan pernah bisa membuktikannya salah. Kecuali anda sudah sampai disana, melihatnya sendiri. Setelah membuktikannya pun, anda hampir tidak mungkin kembali untuk berkoar-koar. Kalaupun kembali, anda akan kesulitan untuk membuktikannya. Setiap orang tetap bebas membuat, memilih dan meyakini cerita yang disukai.

Dengan meyakini sesuatu, kita akan merasa punya pegangan. Silakan sebut itu fiksi ilusif. Tapi dalam hati anda pasti akui bahwa kita perlu banget yang namanya pengangan, sesuatu yang bisa menenangkan/menyenangkan kita. Sesuatu yang bisa kita yakini sebagai “kebenaran sejati”, yang bisa melindungi kita dari kegelisahan akan “ketidaktahuan” dan “ketidakpastian”. Kita semua perlu pegangan. Seringkali kita juga suka dipegang-pegang 🙂

Sampai disini, apakah anda setuju bahwa semua ‘kebenaran’ itu sama benar? Jika tidak, apakah anda dapat membuktikan adanya kesalahan dari satupun klaim-klaim tentang akhirat dan tuhan?

Mari melenceng sebentar. Sedikit tentang kebiasaan kita melecehkan keyakinan orang. Tahukah anda darimana kebiasaan itu berasal ? Ingatlah, saat kita kecil dulu, baik kecil secara umur maupun jiwa, sebagian besar dari kita dicekoki dengan ajaran-ajaran relijius yang mengklaim dirinya sebagai si paling benar, dan yang lain pasti salah, kita yang paling agung dan mulia, yang lain hina nista. Itu semua tertanam dalam di otak kita. Kita selalu ingin jadi nomor satu. Kita ingin mendominasi, mengalahkan, menyingkirkan apapun yang tidak sesuai dengan agama kita. Ajaran ini terbawa terus sampai sekarang. Mirip sekali apa kata sebuah iklan pasta gigi, ajarkan anak anda sejak kecil untuk merasa paling benar sendiri, membenci dan melecehkan yang lain, maka sepanjang hidupnya dia akan terus mengingat dan melakukan apa yang anda ajarkan. Membenci. Melecehkan. Merasa paling benar.

Ajaran untuk melecehkan yang lain sambil merasa paling benar sendiri ini, tanpa kita sadari, terus kita bawa dan amalkan sampai sekarang. Kita yang beriman, maupun yang atheis, seringkali terus menunaikan kebiasaan yang sama, merasa paling benar sendiri. Kadang, ada yang sudah mengaku atheis, agnostik, aini, aitu sampai asupun kelakuannya tetap saja seperti orang taat beragama, agama yang terus merasa paling benar sendiri sambil melecehkan dan menganggap sesat semua yang lain. Walau mungkin ada juga yang mengaku beragama, tapi entah lupa atau kurang imannya, dia tidak sedikitpun merasa lebih suci atau lebih benar dari yang lain.
Ok, sekarang waktunya kembali ke topik… 

Mengapa pencerahan ini membuat saya jadi malas menulis.

Selama ini, saya hampir selalu menulis bermodalkan friksi. Pertentangan. Keheranan. Kesoktahuan. Kesombongan. Terkait agama. Tapi sekarang saya (sedang) tersadar, jadi memahami, ternyata semuanya benar. Ternyata tidak hanya pemuka agama (yang bisanya hanya meneruskan cerita-cerita dari seniornya untuk menguasai manusia), tapi juga *duh, maafkan saya* guru-guru spiritual sampai anda dan saya pun bisa mengarang cerita apapun tentang tuhan dan akhirat, beserta segala aturan terkait hal itu, dengan tingkat kebenaran yang setara.

Bahkan sebagai orang bebas, kita bisa lebih kreatif dan mungkin malah lebih meyakinkan daripada orang-orang yang memilih terpenjara oleh institusi yang kolot, kaku dan mewarisi terlalu banyak aturan baku. Kalau semuanya benar. Lalu kenapa harus saling melecehkan?

Kehilangan hal-hal yang saya anggap tidak “sebenar saya” membuat saya tak punya bahan untuk menulis. Membuat saya malas. Memberi saya alasan untuk menelantarkan blog ini.

Jika semuanya benar, kenapa susah sekali untuk saling menghormati ? Kita ingin kebenaran kita dihargai, kenapa tak mau menghargai kebenaran orang lain ? Kok masih ingin memaksakan kebenaran kita pada orang lain yang juga punya kebenarannya sendiri ? Bingung. Makin bingung, makin males nulis.

Males nulis, kok sampai sepanjang ini njaa ?

Yak, sudahlah. sekian dulu. Sudah malam, saatnya tidur !

Semoga kita semakin bisa merayakan kehidupan.

Sekte Sakti Senja Kelana Blogger Senior MAHA benar !!! Sebelum Mematikan diri (pemikiran) hendaknya ingin meracuni.


Bertemakan Tuhan ? Agama ? Politik ? Cinta ? Atau Manusia Jahilliyah ?



Saya sedang mendalami karakter “jahat” dalam satu episode peradaban, hanya saja di tengah jalan saya mengalami kebuntuhan dalam menulis, seperti kehilangan passion dalam diri saya. Dan ingin segera mengistirahatkanya sejenak. Tapi, masih ingin meracuni, masih ingin menelanjangi, katarsis akhir dalam peran “jahat” saya sebagai blogger senior MAHA benar !!!

Mohon moderasi- nya, adik-adik, kakak-kakak, ibu-ibu, bapak-bapak blogger yang jauh lebih senior daripada saya. Untuk berkenan memberikan TEMA yang pas untuk mengakhiri masa “jahat” saya dalam satu episode peradaban kali ini, bahwasanya menginginkan ‘racun’ seperti apa untuk indonesia merdeka yang telah berusia 71th agar tetap indonesia, tetap bhineka tunggal ika, dan tetap utuh tak terpecahkan.

Saya tuliskan “terima kasih banget” untuk yang sudi repot mengapresiasi keinginan saya dalam menyumbangkan ide gagasan / tema dalam kerangka artikel yang hendak saya buat. Jika pun anda ogah untuk memberikan itu, saya tetap berterima kasih, karna sudah meluangkan waktunya untuk membaca artikel yang masih berupa judul tanpa isi ini.

(Lanjutan) One Day, Endless (Pray)

Harapan yang selalu disemogakan, seperti apa nanti akhrinya tak perlu dipersoalkan, manusia tercipta untuk mengisi dunia lengkap beserta segala problematikanya. 

Jika menjaga senyumnya adalah sebuah amanah, saya berharap tuhan selalu memberi kekuatan untuk merekahkanya. Karna segala daya dan upaya manusia hanyalah sebuah perjalanan, Garis tuhan adalah yang terbaik dan terindah tentunya. Suatu malam, saat nalar terkontaminasi suasana hati maka yang terjadi ialah gejolak, rasa emosional yang kerap membawa kedekatan sekaligus hiperbola. Dimana sering terjadi perselisihan yang menginsyaratkan berbagai rasa yang sulit diungkapkan dengan kata dan hanya mampu dijelaskan melalui pandangan mata.

Mulut bisa berdusta tapi mata selalu bisa menjelaskan kebenaranya. Oleh sebab itu, usahakan untuk kawulah muda mudi yang sedang menjalin komitmen seringlah bertemu dan berempati terhadap pasangan, niscaya hubungan kalian akan langgeng hingga tahapan berikutnya. 

*lah kalau LDR gimana senja ?




Ehm… IDL (itu derita lu) gaess.. Heheee..justkid.. 😀

Entar kalau sempat dibuatkan solusinya untuk para pasangan yang LDR, tenang. Untuk sekarang kasih kesempatan saya dulu ya, lagi rindu akut soalnya pengen ketemu dia..
^___^

REKLAMASI ???

​Apapun kegiatanya saya kurang setuju kalau harus memaksakan tumbuh yang besar dan mempersulit yang kecil.

Reklamasi jakarta, sebegitu pentingkah untuk proses bersaing di kanca global ? Dengan memforsir daerah yang bernama JAKARTA hanya karna tatapusat negara ? Holla, utara ini sudah darurat banjir. Jika tetap dipaksakan, ya siap tenggelam brarti untuk ancol dskt.

Jika alasanya hanya ingin menunjukan taring di bidang properti untuk pertumbuhan ekonomi agar bisa sejajar dengan negara-negara tetangga yang jauh lebih maju, bukan jakarta solusinya. Jakarta sudah terlalu sumpek, yang lalu sudah di gusur-gusurin sekarang mau bikin peradaban baru. Gimana to bos ???

Kenapa ga babat aja skalian hutan di kalimantan biar berantem ama suku dayak yang konon katanya masih ada culture pemakan manusia.. Takut ? Karna bisa mengganggu stabilitas iklim global ? Lalu merusak ekologi laut baik ?

Ini warning untuk pengembang-pengembang usaha sekaligus pengemplang pajak dari berbagai aspek negeri ini, JANGAN rakus donk, kemaruk lu !!! Harta lu buat makan sekeluarga juga ga bakal abis sampai 7turunan.

Untuk infrastruktur mikir yang pasti-pasti aja, trans sumatra, trans papua dan jalur-jalur penghubung di pelosok-pelosok negeri yang memang perlu di benahi. Biar generasi penerus kita nanti yang kembangkan di tiap sektornya yang sekiranya prospek. Yang trpenting pemerintah saat ini sudah nyediain jalanya. Iya kan ? Betul kan ?

Kalau bisa setelah diberhentikan reklamasinya, tenggelamin pulaunya yang sudah terlanjur ada. Membiarkan stuck sama aja ngundang IBLIS untuk konspirasi. Debat lagi, berantem lagi, bunuh-bunuhan lagi. Ga capek emang.. Damailah, Oke.. ^___^

Mungkin ini alasan yang tepat dan cukup masuk akal, sekalipun patut diraguhkan keabsaanya untuk memberhentikan reklamasi itu memang HARUS !

1. Jika sebuah teluk bisa tercemar ekologinya, karna limbah industri, berarti tidak menutup kemungkinan donk jika reklamasi jadi, peradaban baru, investor baru, limbah baru juga donk pastinya. Lalu buang limbahnya kemana ? Laut utara ? Teluk sudah ancur mau ancurin ekologi laut juga ? Tau donk nusantara itu termasuk negera maritim yang mengandalkan hasil laut.

2. Kenapa harus berhenti ? Mungkin alibi yang pernah saya dengar agar terhindar dari abrasi laut utara, saya rasa cost-nya terlalu besar kalau harus reklamasi. Kenapa ga bikin aja semacam tanggul yang lbh masuk akal, beton tumpuk-tumpuk, atau semacamnya tujuanya agar gelombang tidak sampai daratan. Karna Apbn harus merata ga cuma untuk jakarta. Setuju ? Harusnya sih sebagai manusia providien yang menjunjung pancasilaisme anda akan setuju. Jika pun mungkin (nge) lupa maka saya ingatkan tolong baca sila ke – 5 !

3. Agar stabilitas anggaran negara ga njomplang, sebab mana ada mega proyek yang lempeng ? Jika pun ada itu sudah sejak tahu lalu kapan mungkin. Jadi yang dirugikan siapa ? sudah pasti rakyat. Yang dapat keuntungan siapa ? Jelas kapitalis, oportunis brengsek yang kawin ama birokrat busuk. Penekanan pajak tinggi mungkin berlaku di era ahok, tapi apa ada jaminan selamanya begitu ? Nanti setelah era gubernur baru ? Tidak! Undang-undang bebas di RE-scedule.

Waktu abis, I quit.

Sleep.

^___^

Mabok pencitraan, prestige dan mainstream basi !!!

​Sudah jemu lihat sekitar, kemenye-menyean generasi bangsa.

Saat moral kian rusak, paradigma kian bobrok, Sejarah hilang, mall semakin megah yang sarat akan kepalsuan plastik importir sialan.

Jangan salahkan orang tua, jika mainstream tetap menjual diri pada penguasa. Bukan salah manusia jika semakin rakus & serakah karna negara juga menyediakan. Norma-norma yang ada hanyalah lelucon kuno yang murah terjual.

Sampai kapan…???

Quote Basi #3 (Indonesia)

Indonesia tanah air beta, jika bukan beta jangan percaya dia !!!

Pancasilaisme faham kita, bhineka tunggal ika !!! Selain itu adalah sekte sesat.

Jangan berebut kursi hanya untuk berdiplomasi, sesekali atraksi duonk.

Rakyat adalah bosnya, sisahnya cuma babu kita.

Jika rupiah setara tuhan seharusnya bukan kafan bekal di lahat melainkan emas.

Siapa bilang uang untuk hidup ? Mereka hanya takut jelajah.

Yang tua sibuk lobi-lobi, yang muda melulu ngentot, lalu siapa yang berjuang ? Beta, gitu ? Nonsense !!!

Rame-rame dukung ini ternyata begitu juga, sialan.

Mari bercermin jika biasnya tak sewarna silakan bunuh diri !

Obral obrol dengan kongsinasi iblis, asik. Hepi-hepi..

Buncit karna busung lapar atau buncit karna tak sempat lapar ? Aku sih milih sixspack. RATA!

Membual atau dibuali ? Yang saya lihat mereka memilih kenyang.

Silakan lantang berujar bukan telentang mendesah, aahhhh..

Membodohi atau dibodohi ? Jelas milih pinterlah. Sarjana ini.

Jika angka tolak ukur untuk karya seharusnya mural para bomber itu nomina, bukan gambar alay bikin mual !

Sudah ramai diplomasi, anda masih berkutat dengan puisi ? Basi! 

Dimana kartini ? Ko, yang tampil lady rose terus. Bosan ih..

Pizza mulu bikin lu cepat mati, bakar singkong yuk ? Gua panen ni.

Tertinggal sejenak tak jadi soal daripada tersesat selamanya, haio.

Saya penulis bukan seniman jika tak indah tak apa ya, sorry bah.

Ekspetasi tinggi melahirkan halusinasi tak heran kalau racun ekstasi alibi pecahkan ilusi.

Dewa imajiner semesta itu uang, selakangan, prestige.

Wiji tukul, munir, marsinah dlsb. Siapa gerangan dikau ? Gugling ah. Biar indonesia ga india terus.

Reklamasi itu salah karna melanggar kodrat alam, sudah itu aja sih, takut salah perfektif.

Simbosis mutualisme bencana terjadi bukan karna keisengan tuhan. Melainkan karna kegoblokan manusia-nya.

Sebelum alam murka mari perbaiki dengan langkah nyata, bukan malah mem-propaganda-kan setan dan tuhan.

Menembak mati terpidana narkoba, membiarkan hidup koruptor. Kan sama-sama merusak mental bangsa bos. Adil..lah…

Hakim terima suap, terdakwa busuk memberi suap. Rugi negara keluarkan anggaran untuk bangun pengadilan.

Percayalah, lu harus pinter! karna maling sandal dan koruptor itu sama hukumanya. You knowlah.

Jika bung karno dapat predikat putra ‘fajar’ karna keberanian dan kepintaranya, (semoga) ‘senja’ kelana mengikuti integritasnya!