Senja Kelana this is….

Blog ini adalah semacam “sarang” pribadi. Tempat nyusuh yang bisa diisi dengan apapun yang saya mau. Mulai dari curhat, ide-ide, mantra-mantra, cerita ga penting, sampai cerita mesum. Pokoknya apapun bisa saja nongol disini. Tidak akan konsisten pada satu topik.

Bila anda belum cukup umur , baik secara fisik maupun mental, sebaiknya segera ber-istighfar dan menyelamatkan diri… hehe, tapi tidak serusak itu sih, nekat baca aja juga tak apa. Mungkin malah membantu anda jadi cepat dewasa… kalau bukan gila 😛 

Tapi siap-siap saja bila nanti ada konten yang terasa melanggar etika ketimuran (apalagi timur tengah). Anda sudah diperingatkan. Satu lagi, hampir semua tulisan disini serba subyektif , kalaupun terasa obyektif, itu pasti karena tidak disengaja. Jadi kalau anda mencari tulisan yang obyektif disini, anda sudah mencarinya di tempat yang sangat salah, meski bukan tidak mungkin anda akan menemukannya juga.

Sebelum memutuskan untuk membaca isi blog ini, pastikan anda sudah membaca tanda peringatan! yang perlu dibaca demi keselamatan bersama, terutama saya. 😀

Tentang Senja (yang) Ber – Kelana !!!

Berikut sedikit info tentang penulis, sengaja saya pajang agar tidak ada yang mati gentayangan gara-gara penasaran akan identitas saya (ini serius, bukan geer) *bletakkk!*

Nickname: Senja Kelana

Nama panggilan: Sen, Nja, dlsb.

Alat kelamin: Penis

Umur: Belum 30, panggil aja nja, masih sepantaran anda kok.

Email: Ardhypermana11 di gmail dot kom. Tapi saya tidak hobi chat, males. Kecuali darurat… atau yang dibahas (atau orangnya) terlalu amat sangat menarik.

Lokasi Geografis: Sering di Jatim kadang di jabar, kadang diantaranya.

Status Pernikahan : Belum, tapi hati sudah ada yang punya.

Ijazah terakhir: Sarjana Ekonomi

Keahlian: Tidur dan Berdoa (yang kedua udah jarang dilatih).

Sifat buruk: Sombong, angkuh, arogan, sulit menerima kritik, agak pemalas, wawasan lumayan cupet tapi sering sok tahu. Agak penakut, sering tidak berani keluar dari wilayah nyaman. Tentunya semua itu sedang dalam proses perbaikan terus menerus dan sekarang mungkin sudah jauh berkurang 🙂

Sifat baik: Suka menolong, ramah, keren, ahli surga, seksi mandraguna, baik hati, baik sangka, dan lain-lain sebagainya. Relatif sih. 😀

Bentuk Fisik: Seksi mandraguna. Menurut pacar saya juga gitu 😀

Iya kan?

Menyukai: Mencari Tuhan; Baca buku; Baca blog orang; Internetan; Motor-motoran (agak cepet); Kamasutra; Blogging; Belajar Mikir; Belajar Nyadar.

Tidak menyukai: Mainstream kekinian, antri spbu, Ikan asin,  Pemuka agama yang hobi latihan vokal (dengan megaphone disetel maksimal); Ceramah Agama yang memecah belah dan anti kemanusiaan; Ceramah MLM; Janji-janji surga; Ancaman neraka.

Jika mereka (mainstream) memperkenalkan diri di prolog, saya mencoba bermain gila (tentunya bukan dengan janda basah), dgn memperkenalkan diri di akhir episode. Tujuanya apa ?? Agar semua pihak yang merasa terzalimi dengan isi artikel dalam blog ini tidak mati dengan penasaran karna mencari biografi saya sebagai penulis yang teramat pintar.

Wokeh, sekian dulu yak. Sampai ketemu di lain kesempatan. Tentunya dalam moment yang tidak lagi hina, karna mungkin saat itu saya sudah benar-benar melacurkan diri pada penguasa (mungkin).

Seeeeee yuuuuuu…
^_____^

Tidak memiliki Agama Namun ber-Tuhan. 

​Sering saya membuat postingan yang kesannya membela sekte, mazhab, organisasi yang dianggap sesat oleh mainstream dari sebuah organisasi agama. Adapun alasan melakukan hal itu adalah bahwa saya gamang. Jadi sebenarnya tulisan tersebut adalah untuk mengkomunikasikan kegamangan yang saya rasakan. Kegamangan yang dikarenakan bahwa saya tidak pernah bisa mengerti bagaimana sebuah agama dianggap hak milik. Lebih khusus lagi bahwa agama hanya hak milik kelompok tertentu saja. Memangnya agama bisa dimiliki ya ?

Bahwa perlu disadari bahwa ada konsekuensi dari rasa kepemilikan agama oleh kelompok tertentu. Konsekuensinya adalah kelompok tersebut akan merasa berhak untuk melarang orang lain untuk menggunakan agama miliknya itu. Saya benar-benar tidak bisa memahami akan hal itu. Sebab bagi saya sendiri agama itu hanyalah sebuah petunjuk yang diturunkan bagi semua umat manusia. Yang bebas dipakai oleh siapa saja sesuai dengan pemahamannya masing-masing. Soal bahwa karena sesuatu hal ternyata tidak bisa memanfaatkan petunjuk tersebut secara benar sehingga mengambil jalan yang salah. Maka itu adalah resiko yang ditanggung masing-masing orang. Maksimal yang bisa kita (jika merasa yang benar) lakukan adalah sekedar memberitahukan saja kesalahan orang tersebut. Bukan memaksa.

Sepertinya memang sudut pandang saya akan agama itulah yang membuat saya tidak bisa (tidak pernah bisa menerima?) jika ada pihak yang melarang orang lain menggunakan suatu agama menurut cara yang diyakininya. Dengan alasan apapun itu. Apalagi ternyata pihak tersebut malah memaksakan agar orang-orang harus mengikuti caranya. Jika tidak mau menuruti maka dilarang menggunakan agama tersebut.

Jangan-jangan hal yang saya sebutkan di atas jugalah yang menyebabkan FPI hingga menyerang Aliansi Kebangsaan. FPI merasa bahwa merekalah yang memiliki Islam. Jadi setiap orang harus berIslam dengan cara mereka. Jika tidak maka halal untuk ditumpahkan darahnya jika masih tetap menggunakan Islam. Duh, betapa mengerikan efek rasa memiliki agama ini.

Pikir saya sih, kenapa tidak diberitahu saja bahwa :
Saya punya cara menjalankan ajaran agama ini yang menurut saya lebih baik dari caramu sekarang. Nah terserah kamu mau mengikutinya atau tidak. Saya serahkan semua pada penilaian Yang Maha Adil.

Begitu menurut saya lebih pas.

Tapi itu semua hanyalah pandangan saya pribadi. Pandangan pribadi dari seseorang yang memang tidak punya rasa kepemilikan pada agama.Seorang manusia yang merasa salah saja tidak berhak dimiliknya, apalagi agama. Jadi jika memang dalam suatu agama diwajibkan untuk mempunyai rasa kepemilikan. Berarti sudut pandang saya memang bakalan tidak akan pernah nyambung dengan pemeluk agama tersebut. Tapi walau tidak nyambung, saya rasa kita semua sepakat bahwa hakim yang paling adil itu adalah Tuhan. Bukan manusia. Jadi bagaimana kalo keputusan mutlaknya kita serahkan saja kepadaNya? Sedangkan bagian kita, para manusia adalalah keputusan relatif. Keputusan yang masih memberikan ruang untuk dipertanyakan.

Selamat beribadah sesuai keyakinan masing-masing, tak soal kitab mana yang kan kau seru ! Tujuan kita adalah Tuhan, bukan literal agama. 

C…. U….
^_____^

Bebas sebut saya [Atheis] karna fundamentalis ataupun liberalis adalah BASI !!!

​Kaum agama yang fudamentalis dan liberalis ternyata mempunyai sebuah kesamaan mendasar diantara perbedaan yang tampak dari sikap beragama mereka yang BASI. Kesamaan tersebut adalah keduanya sering menggunakan ayat-ayat dari kitab yang dianggap suci sebagai pendukung pemahaman dan tindakan beragama mereka.
Sudah sering kita jumpai bahwa satu ayat yang sama bisa menjadi pendukung dua pendapat yang saling bertentangan. Itu untuk satu ayat yang sama, jika kita ambil satu kitab suci yang sama, maka akan lebih banyak lagi kita temukan paradoks tersebut. Bahwa satu ayat dipakai oleh kaum fudamentalis untuk membenarkan tindakannya, sedangkan ayat lainnya digunakan kaum liberalis sebagai penentang tindakan kaum fudamentalis tersebut. Hal tersebut juga bisa berlaku sebaliknya. Kedua ayat yang dipertentangkan tersebut berasal dari satu kitab suci.

Nah, dari fonamena tersebut dapat kita lihat bahwa ayat-ayat dari sebuah kita yang dianggap suci itu ternyata tidak bebas nilai. Tepatnya bahwa penafsiran dari ayat-ayat tersebut yang tidak bebas nilai. Nilai-nilai dari si penafsir akan senantiasa mempengharuhi hasil akhir dari tafsir yang dilakukan. Bahkan dengan metode penafsiran yang paling bagus sekalipun, seringnya tetap saja hasil akhir penafsiran ditentukan oleh nilai-nilai yang dianut si penafsir.

Jadi ketika kita bermain di dalam pengertian sebuah atau beberapa ayat dalam membenarka tindakan yang kita ambil maka di situ subjektifitas kita telah bermain. Dan manusia memang punya kecenderungan untuk mempercayai apa yang ingin dia percayai. Jadi sangat wajar hingga akhirnya pemahaman akan sesuatu ayat akan disesuaikan dengan sesuatu yang benar menurut nilai-nilai yang dianutnya. Jika tidak sesuai, maka otomatis akan tertolak. Walau secanggih apapun metode dari penafsiran tersebut.

Maka dalam tataran ini, baik fudamentalis maupun liberalis adalah melakukan hal yang sama terhadap ayat-ayat kitab suci. Keduanya menafsirkan kitab yang kataya suci sesuai dengan nilai-nilai yang dianutnya. Hal tersebut tidak berarti salah, sebab bisa jadi memang kitab suci fungsi sejatinya adalah menjadi sebuah cermin yang memantulkan apa yang ada dalam diri kita. Hal tersebut sejalan juga dengan pepatah kuno bahwa Tuhan itu sesuai dengan prasangka hamba-hambanya.

Sekarang, jika tidak ada salah benar bagaimana akhirnya kita memilih? Menurut saya kita lihat saja hasilnya terhadap kemanusiaan. Yang paling mendukung menjadikan kita manusia seutuhnyalah yang sebaiknya kita ikuti. Gunakan akal sehat yang telah dianugrahkan oleh Tuhan untuk memilah. Jangan gunakan emosi keagamaan, sebab seringnya menyebabkan pandangan kita sudah tidak jernih lagi. Lebih baik lagi jika anda dapat dan berani untuk menafsirkan ayat-ayat kitab suci sesuai dengan nilai anda sendiri. Tidak usah ikut-ikutan tafsir orang lain.l

Selamat memilah, memilih dan menafsir.. 😀

Bingkai Kebahagiaan

Bahagia itu sederhana, Bahagia itu mutlak milik manusia. Jika ada manusia yang selalu mengeluh dalam hidupnya, mungkin dia adalah orang-orangan mainstream negeri plastik. 

Keluarlah dari sana, bikin kekacauan, bikin semua mata tertuju padamu. Bahwasanya “ketidakberartian” , anggapan dangkal orang-orangan itu tidak berlaku pada dirimu yang sedang BAHAGIA. Silakan rayakan se-absurd mungkin. 

Jangan ingin selalu nampak berarti dalam jajaran manusia palsu, tapi berikan arti dalam setiap jejak kakimu, sama rata sama rasa. Stay Humble in Public