Bebas sebut saya [Atheis] karna fundamentalis ataupun liberalis adalah BASI !!!

​Kaum agama yang fudamentalis dan liberalis ternyata mempunyai sebuah kesamaan mendasar diantara perbedaan yang tampak dari sikap beragama mereka yang BASI. Kesamaan tersebut adalah keduanya sering menggunakan ayat-ayat dari kitab yang dianggap suci sebagai pendukung pemahaman dan tindakan beragama mereka.
Sudah sering kita jumpai bahwa satu ayat yang sama bisa menjadi pendukung dua pendapat yang saling bertentangan. Itu untuk satu ayat yang sama, jika kita ambil satu kitab suci yang sama, maka akan lebih banyak lagi kita temukan paradoks tersebut. Bahwa satu ayat dipakai oleh kaum fudamentalis untuk membenarkan tindakannya, sedangkan ayat lainnya digunakan kaum liberalis sebagai penentang tindakan kaum fudamentalis tersebut. Hal tersebut juga bisa berlaku sebaliknya. Kedua ayat yang dipertentangkan tersebut berasal dari satu kitab suci.

Nah, dari fonamena tersebut dapat kita lihat bahwa ayat-ayat dari sebuah kita yang dianggap suci itu ternyata tidak bebas nilai. Tepatnya bahwa penafsiran dari ayat-ayat tersebut yang tidak bebas nilai. Nilai-nilai dari si penafsir akan senantiasa mempengharuhi hasil akhir dari tafsir yang dilakukan. Bahkan dengan metode penafsiran yang paling bagus sekalipun, seringnya tetap saja hasil akhir penafsiran ditentukan oleh nilai-nilai yang dianut si penafsir.

Jadi ketika kita bermain di dalam pengertian sebuah atau beberapa ayat dalam membenarka tindakan yang kita ambil maka di situ subjektifitas kita telah bermain. Dan manusia memang punya kecenderungan untuk mempercayai apa yang ingin dia percayai. Jadi sangat wajar hingga akhirnya pemahaman akan sesuatu ayat akan disesuaikan dengan sesuatu yang benar menurut nilai-nilai yang dianutnya. Jika tidak sesuai, maka otomatis akan tertolak. Walau secanggih apapun metode dari penafsiran tersebut.

Maka dalam tataran ini, baik fudamentalis maupun liberalis adalah melakukan hal yang sama terhadap ayat-ayat kitab suci. Keduanya menafsirkan kitab yang kataya suci sesuai dengan nilai-nilai yang dianutnya. Hal tersebut tidak berarti salah, sebab bisa jadi memang kitab suci fungsi sejatinya adalah menjadi sebuah cermin yang memantulkan apa yang ada dalam diri kita. Hal tersebut sejalan juga dengan pepatah kuno bahwa Tuhan itu sesuai dengan prasangka hamba-hambanya.

Sekarang, jika tidak ada salah benar bagaimana akhirnya kita memilih? Menurut saya kita lihat saja hasilnya terhadap kemanusiaan. Yang paling mendukung menjadikan kita manusia seutuhnyalah yang sebaiknya kita ikuti. Gunakan akal sehat yang telah dianugrahkan oleh Tuhan untuk memilah. Jangan gunakan emosi keagamaan, sebab seringnya menyebabkan pandangan kita sudah tidak jernih lagi. Lebih baik lagi jika anda dapat dan berani untuk menafsirkan ayat-ayat kitab suci sesuai dengan nilai anda sendiri. Tidak usah ikut-ikutan tafsir orang lain.l

Selamat memilah, memilih dan menafsir.. 😀

Iklan

Penulis: Senja Kelana

Seorang pria yang menyukai senja, tak terikat, bebas terkendali, dan menghargai perbedaan.

13 thoughts on “Bebas sebut saya [Atheis] karna fundamentalis ataupun liberalis adalah BASI !!!”

  1. Maka kita diminta untuk menjadi masyarakat muslim yang moderat, di tengah-tengah, tidak berlebih-lebihan dan tidak pula memudah2kan..

    Untuk syarat menjadi seorang mufassir ada 20 disiplin ilmu yang mesti dimantapkan, dan pastinya membutuhkan waktu yang lama, berpuluh tahun..

    Ya, sampaikanlah kalam Allah seutuhnya, tidak dilebihkan dan tidak dikurang-kurangi..

    Coba jua untuk melihat berabagai macam corak model penafsiran Alquran, kemudian juga metodenya. Karena Alquran adalah firman Allah yang tidak ada keraguan padanya. Allah ta’ala langsung yang menjaga firmannya semenjak Nabi Muhammad ‘alaihissalam hingga waktu yang ditentukan.

    Disukai oleh 4 orang

  2. Sebenernya gak semua orang bisa menafsirkan ayat2 sendirian, ada ayat2 yg perlu diperlu ditafsir melalui ulama.

    Mungkin itu yg kurang dipahami sampai akhirnya tiap orang membela dirinya masing2 dgn ayat2 pembenaran.

    Disukai oleh 1 orang

  3. “Hal tersebut tidak berarti salah, sebab bisa jadi memang kitab suci fungsi sejatinya adalah menjadi sebuah cermin yang memantulkan apa yang ada dalam diri kita. Hal tersebut sejalan juga dengan pepatah kuno bahwa Tuhan itu sesuai dengan prasangka hamba-hambanya.”

    Sukaaa sama kalimat ini, setuju!

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s