Negara Basbang, Ber-Munafik Ria…

​Seingat saya dulu ada salah satu sastrawan besar Indonesia yang menyatakan ciri-ciri orang Indonesia. Ada beberapa ciri-ciri. Namun yang saya bahas kali ini adalah satu ciri-ciri yang masih saya ingat, yakni bahwa orang Indonesia itu adalah munafik. Munafik sebuah kata yang kuat. Betapa kita tidak akan pernah rela untuk digelari sebagai munafik. Tapi jika memang kenyataan, apa boleh buat. Mari kita telan gelar munafik itu dengan sadar. Hingga merasakan betapa tidak enaknya, lalu mempunyai keinginan untuk tidak munafik lagi. Walau memang sangat sulit untuk tidak munafik. Tapi tetap layak kita coba.

Nah, tentu ada sebabnya mengapa saya tiba-tiba tertarik membahas soal munafiknya orang Indonesia ini. Padahal tema ini sangat saya hindari, sebab jelas saya sendiri tidak terlepas dari sikap bermunafik ria tersebut. Jika tidak bagaimana mungkin saya bisa hidup dan bekerja dengan tenang di Indonesia tercinta ini? Ah, sudahlah, itu hanya pembenaran dari saya saja. Mari melanjutkan ke alasan mengapa saya sampai membahas soal munafik ini. Dan tentu saja, seperti yang sudah-sudah, akan saya kaitkan dengan agama. Segala sesuatu harus dikaitkan dengan agama bukan? Biar kelihatan religius.

Jadi begini ceritanya. Saat itu saya sedang tidak ada kerjaan selain bengong dan ngelamun. Nah, ketika saya sedang ngelamun ngolor ngidul tak tentu rimbanya di kamar yang pas-pasan pengapnya ini, tiba-tiba saja lamunan nyasar ke kehidupan waktu kuliah dulu. Dimana saya punya teman yang orangnya cukup agamais. Dimana dia rajin beribadah menurut perintah agamanya. Juga tidak lupa , seperti orang Indonesia lainnya, tentu dia akan turut serta mencak-mencak ketika merasa agamanya diperlakukan tidak semestinya. JIka ada kesempatan malah akan berdiri paling depan untuk menghadapi para musuh agama itu.

Waktu itu sih saya tidak sempat terlalu memperhatikan paradoks yang ada pada sosok teman tersebut. Saya merasa semua tindakan teman tersebut adalah wajar-wajar saja. Tapi sekarang, jika dipikir-pikir, maka saya berpendapat bahwa teman tersebut masuk kategori munafik. Betapa tidak, dengan entengnya dia membawa wanita masuk ke kamarnya sampai berhari-hari. Wanita yang bukan istrinya loh ya. Dan dari cerita sang teman sendiri jelas telah terjadi hal-hal yang diinginkan.

Juga si teman tidak menolak ketika diajak berpestaria untuk menikmati ganja dan minuman beralkohol. Sungguh sekarang inilah baru saya ngeh, betapa mengherankan sikap teman tersebut. Seakan-akan untuk urusan tertentu, keagamaanya dititipkan dulu entah dimana. Yang lebih ajaibnya lagi sang teman tidak pernah lupa mengambil kembali keagamaan yang tadi dititipkannya tersebut. Dan kembali hidup cukup religius, sampai nanti ketika saatnya dititipkan kembali.

Ternyata, jika saya ingat-ingat lagi tidak cuma seorang teman itu saja yang berkelakuan ajaib. Ada beberapa teman yang berkelakuan sama ajaibnya. Mungkin itu yang disebut beragama hanya secara formal, sedangkan esensi agama tidak pernah meresap ke dalam jiwa. Lantas apa bedanya dibanding aku yang tidak beragama formal ya? Toh akhirnya kami sama-sama mabuk. Atau mungkin memang mereka dijamin masuk surga oleh agamanya masing-masing walau apapun kelakuannya. Bisa jadi begitu sih, mungkin dengan tambahan syarat untuk tidak pernah lupa mengambil keagaamaan di penitipan. Jika lupa, baru masuk neraka.

Mari kita tinggalkan cerita lalu tentang keajaiban cara beragama teman-teman tersebut. Sekarang ikuti lamunan saya yang semakin meluas hingga mencapai Indonesia Saya melamunkan kejadian-kejadian di Indonesia yang sempat terekam dalam ingatan. Ingatan yang membuat saya menjadi sadar, ternyata kelakuan teman-teman saya waktu kuliah tersebut adalah potret kehidupan rakyat Indonesia secara keseluruhan. Kelakuan ajaib mereka menggambarkan hampir sebagian besar tingkah laku yang saya temui dalam pengalaman hidup saya sampai saat ini.

Betapa kita lihat departemen agama menjadi sarang korup. Betapa para koruptor dengan tenangnya melakukan ritual ibadah agama mereka, dan disanjung-sanjung akan kebaikan karena mengucurkan sebagian kecil hasil korupsi untuk kepentingan agama. Betapa juga petinggi agama berpolitik dengan cara teramat kotor. Betapa tokoh panutan dalam hal kebaikan ternyata menyimpan borok yang sangat menjijikkan. Betapa partai berlandaskan agama ternyata hanya bertujuan mendapatkan kekuasaan hingga lupa untuk hanya menggunaka cara yang dibenarkan oleh agama landasannya. Betapa ritual agama telah berubah menjadi arena memperkaya diri. Betapa agama hanya menjadi alat pembenaran kejahatan. Betapa agama menjadi tempat cuci tangan. Dan betapa-betapa yang lain.

Sempat kepikiran juga bahwa jangan-jangan tindakan pelaku semua kemunafikan tersebut pada masa kuliah sama dengan tindakan teman-teman saya. Terbiasa dengan tindakan munafik. AH! Betapa Indonesia ternyata adalah negara dengan rakyat relijius yang hidup dalam kemunafikan. Dan telah dipelajari dari masa muda.
Wokee..Silakan Ber-Munafik Ria..

Titipkan sejenak lebel religiusnya, jangan lupa ambil kembali untuk tiket syurrrgaaa…
^_____^

Iklan

Penulis: Senja Kelana

Seorang pria yang menyukai senja, tak terikat, bebas terkendali, dan menghargai perbedaan.

3 thoughts on “Negara Basbang, Ber-Munafik Ria…”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s