Go Life for Live

Perlahan turun,

Hinggap menahun,

Saat itu manusia akan tahu betapa sia-sianya hidup jika sudah tertutup karat pekat nan gelap. Dosa yang terus hadir dalam setiap jengkal langkahnya adalah KEHIDUPAN. Dosa yang selalu tercipta dalam lisanya juga KEHIDUPAN. Dan dosa yang terlukis dalam buku harian tua kelamnya pun masih tetap bagian dari KEHIDUPAN. 

Mari saling jaga, tak ada kebenaran yang hakiki, tak perlu terus berebut meninggikan mutu diri. 

Iklan

Hari pahlawan, masih pentingkah ?

Baru nge- setelah doi ngingetin kalau semalem peringatan hari pahlawan, bukan karna ngelupa atau merasa ga penting untuk memperingatinya. Jelas penting sekali, dimana hari itu, beberapa puluh tahun silam telah dikumandangkan di seluruh pelosok negeri tentang hakikinya kemerdekaan indonesia yang notabenya bisa membangkitkan semangat para pemuda bangsa untuk tetap mempersatukan nusantara. Tak perlu saya jelaskan lagi apa isinya, jika kalian memang penasaran dan memiliki rasa peduli terhadap sejarah silakan gugling, disana banyak sejarawan/bloger/budayawan keren yang akan menjelaskan tentang isi sejarah dari hari pahlawan. 
Alasan mengapa saya tidak mencantumkan apa saja yang terjadi saat 10 november 1945 dalam artikel ini, mudah saja. Karna saya tidak ingin terlihat formal seperti jutaan mulut diluar sana yang nampak baik hanya dalam peringatan-peringatan hari bersejarah, sisah harinya, entahlah. Semua bisa benar tergantung dari sudut mana kita menilai.
Oke, tinggalkan mereka yang formal dan major, mari kembali dalam indie dan minor.  ^___^

 

Saya selaku penulis a.k.a “senja kelana” memang lebih suka berada pada posisi terendah, tergelap, tersudut, terminor sekalipun tak pernah saya persoalkan. Karna saya menganggap berada dalam barisan itu sungguh amat menyenangkan, mereka jujur, apa adanya, dan tentunya memiliki mimpi yang sama yaitu agar bisa terbebas dari zona memalukan hidup yang memang absurd, kehidupan yang sudah diperkosa oleh penguasa dan di porakporandakan kaum major sebagai pelacurnya.

Dalam pikiran saya yang sok tau, sekaligus logis terus bertanya, masih pentingkah peringatan-peringatan seperti itu jika hanya terucap secara lisan, formal lalu jerit-jerit dalam akun sosmed masing-masing agar terlihat peduli terhadap bangsa dan negara ini.

Mari kita buktikan kebenaranya :

Saya memakai jakarta beserta isinya sebagai acuanya, karna selain kota nomor satu di indonesia, jakarta juga selalu asik untuk dibuli sekaligus memang perlu terus dibenahi. 

1. Sering kita dengar demo jerat jerit mahasiswa dangkal pikiran yang hanya tau “sego mateng sorak hore” (nasi matang sorak gembira) untuk membela suatu keyakinan yang mereka dan golonganya anggap adalah benar guna menjatuhkan golongan lain yang nampak salah. Dimana rasa persatuanya ? Harus gitu seragam dalam kedaulatan pancasila yang beragam. Sebagai generasi yang lebih terdidik seharusnya mereka bisa musyawarah untuk mencapai mufakat demi kepentingan bersama. Bukan demo, bakar ban, jerat jerit ga jelas bikin macet jalan. Norak lu brayyy…main lu kurang jauh, terlalu mainstream. Basi !!!


2. Beberapa hari kemarin saya melihat berita tentang ormas yang berlabelkan agama terus berunjuk rasa untuk menjatuhkan instansi yang mereka anggap laknat karna telah menistakan keyakinan mereka, saya berpikir apakah mereka yang rela turun jalan, panas-panasan ujan-ujanan itu sudah memang bersih dan suci hingga mendekati nirwana ? Atau memang hanya gerakan seporadis untuk menguntungkan diri sendiri ? Bukanya kita bhineka tunggal ika ya, unsur SARA seharusnya dikesampingkan jika berhubungan dengan instansi pemerintahan. Sialnya, saya kerap melihat para pemuda juga turut serta disana, pemuda yang seharusnya bisa sebagai penengah atau jembatan bagi perselisihan yang terjadi malah ikut jerat jerit juga. Jika sudah begitu masih pentingkah arti hari pahlawan untuk mereka ?


3. Di jakarta ini ada beberapa golongan pemuda pemudi, ada golongan atas : yang tongkronganya di warung-warung mahal sekitaran kemang, ada golongan menengah : yang tongkronganya di kafe-kafe pingir jalan protokol free waifi. Ada juga golongan bawah : yang tempat nongkrongnya di pinggir-pinggir bantalan rel kereta serta sungai. Mengapa saya bisa mengklasifikasikanya seperti itu, karna saya pernah sebagai pelaku disana, mulai nongkrong di kemang, kuningan dst. Hingga ngemper di sekitaran tembok bolong PRJ. Lebih tepatnya di tansu pojokan, penghuni jakarta pasti tau ada apa aja disana. Selama saya disana, saya selalu mencoba membaur dengan kawan-kawan baru saya disana. Saya juga harus menyesuaikan diri saat saya berperan sebagai pemuda seperti apa saat itu, karna pernah saya coba untuk membelot tentang budaya pemuda disana dan hasilnya memang nihil. Antara atas, tengah, bawah tak akan bisa bersatu. Maka dari itu saya memutuskan untuk kembali di ranah kelahiran saya kota nomor 2 di nusantara, Surabaya. Karna disini saya merasa masih bisa bersosialisasi dengan sangat nyaman. Tentunya karna surabaya juga merupakan kota pahlawan. Hahahaaa..


Mungkin penjabaran diatas terkesan subjektif karna hanya memakai jakarta sebagai acuanya, bisa saja begitu karna saya pada dasarnya memang lagi malas untuk membahas tentang sesuatu yang formal tapi palsu. Selain itu memang saya juga tak sebaik ini, sebab hingga sekarang masih saja melacurkan diri pada oportunis brengsek nan sialan namun memiliki kekuatan finansial yang luar biasa untuk stabilitas ekonomi daerah tertinggal.


Maafkan saya..belum bisa memberi karya bagi nusantara. Mungkin, suatu saat saya bisa merubah citra buruk saya sebagai pemuda indonesia, dimulai dari diri sendiri, keluarga hingga lingkungan sekitar. Semoga kalian semua pun begitu, saya doakan semoga generasi pemuda bangsa ini bisa terus membenahi potensi diri, jauhi narkoba itu saja yang terpenting. 
“Ojo melok-melok an, ojo sikut-sikutan, bedo tapi damai” (jangan ikut-ikutan harus punya pendirian, jangan sikut-sikutan, sekalipun beda tetap damai)

Selamat hari pahlawan, maaf terlambat.