Kinerja pemerintah kelurahan yang masih pake duit ( Surat Pindah Nikah )

Eerr….saya mau curcol sedikit nih tentang kinerja struktur organisasi pemerintahan kita pada tingkat kecil, mulai dari RT & RW hingga kelurahan. 
Saya menulis disini hanya ingin sekedar berbagi info bukan ada niatan untuk nge-judge buruk ataupun hal-hal lainya yang menyudutkan. 

Jadi begini kronologinya : Di hari yang mendung disertai angin sepoi-sepoi saya bersama secuter matic kucel hasil pinjeman pergi ke kelurahan untuk mengurus SURAT PENGANTAR PINDAH NIKAH adik kandung saya. Namun berbagai kendala sempat terjadi hingga saya harus berjibaku menemui RT / RW setempat agar segera memuluskan jalanya niat baik untuk adik saya menikah. 

Beberapa kendala yang tersendat : 

– KSK harus diperbarui
– Membayar iuran TIDAK WAJIB, di komplek saya ( kerja bakti, lampu jalan dll ) sebesar 350.000 rupiah. 
 
Setelah semua kendala diatas sudah saya proses dan mendapat surat pengantar dari RT / RW untuk dikirim ke kelurahan menemui mudin setempat, saya bergegas kesana. Setelah semua persyaratan disetujui maka saya masih harus di suruh menunggu lagi selama 2 hari. Sudah plong rasanya, Selesai juga urusan surat menyuratnya. Namun, di akhir perbincangan dengan beliau (mudin setempat) saya masih disuruh menyiapkan mahar sebesar 150.000 rupiah. Dari situ logika saya mulai bertanya, untuk apa dana itu ? Ngomongnya sih administrasi, tapi ketika saya suruh menjelaskan administrasinya apa aja sampai 150ribu, beliau hanya tersenyum tanpa penjelasan.

Oke saya bisa pahami mungkin karna terlalu banyak rincian yang harus dijabarkan untuk alokasi dana tersebut jika harus dijelaskan secara lisan, saya tetap masih positif thinking saat itu. Berharap setelah saya mengambil berkasnya nanti saya mendapat perincianya secara tertulis. 

# 2 hari kemudian 

Masih di sore hari yang mendung disertai angin sepoi-sepoi, saya kembali kelurahan untuk mengambil berkas yang saya masukan 2 hari yang lalu setelah sebelumnya perut sudah kenyang terganjal baso. Dengan percaya diri tinggi dan pikiran yang full konsentrasi karna sudah kenyang bergegaslah saya kembali ke kelurahan. Setelah sampai sana maka saya di ajak mudin setempat di meja kerjanya untuk berbicara 4 mata, karna di lobi kelurahan cukup banyak orang memang.  Sesampai meja beliau, saya disodorkan amplop coklat berupa surat pengantar nikah yang sudah jadi lalu saya disuruh bayar administrasinya sebesar 150ribu sesuai permintaan beliau 2 hari yang lalu. Saya pun tak lantas langsung membayar, saya masih bertanya lagi untuk apa dana “segitu pak ? Bisa di tuliskan perincianya” namun beliau mengelak. Bahwa tidak ada perincianya. Okelah, saya anggap mungkin beliau repot. Lalu saya segera membayar mahar tersebut, tapi kejadian yang menurut saya aneh terjadi, ketika saya sudah membayar saya tidak mendapat penjelasan apa-apa dari anggaran itu. Sontak logika saya bertanya, untuk apa uang 150ribu itu ? Apa benar masuk Kas kelurahan atau untuk beliau pribadi ? Maka saya memintah kwitansi bukti pembayaran. Namun lagi-lagi beliau menolak untuk membikinkan, sampai saya minta tulisan tangan tanda bukti saja tapi tetap tidak dibikinkan. Dari situ saya benar-benar sudah dongkol sebenarnya, maksudnya bukan dongkol karna kehilangan duit 150ribu. Tapi karna merasa saya tidak dihargai disana, seolah olah saya ini orang bego yang buta struktur organisasi. Mungkin bagi kalian 150ribu itu kecil, memang kecil sih. Namun sekecil apapun itu nominalnya saya tetap menghargainya. Sekalipun rupiah kita tergilas dollar tapi hendaknya kita harus tetap menjunjung tinggi nilai rupiah. Agar uang yang kita keluarkan itu benar-benar berfungsi dengan baik, dan jatuh di tangan orang-orang yang memang baik. Asa masih dimiliki negeri ini, semoga suatu saat nanti rupiah bisa setara dengan dollar. Karna kita memang mempunyai kekayaan alam yang luar biasa.
Kembali ke topik, perihal surat pengantar pindah nikah. Ada beberapa pertanyaan yang mungkin bisa menjadi pencerahan saya disini jika ada yang berkenan untuk menjawab.

1. Apa memang aturanya minta surat pengantar pindah nikah itu bayar ?

2. Kenapa pihak kelurahan enggan memberikan perincian tertulis tentang dana yang masuk ? Kira-kira memang untuk kas kelurahan atau untuk oknum pribadi pegawai setempat ?

3. Hal-hal tersebut mungkin saya menyebutnya korupsi kecil, jika pegawai pemerintahan (kelurahan) menganggarkan dana untuk warganya jika ingin mengurus sesuatu namun tidak disertai perincianya. Kira-kira betul tidak persepsi saya ?

4. Jika memang terbukti hal-hal diatas bisa di katakan korupsi kecil, lalu tindakan pemerintah pusat bagaimana ? Karna di indonesia ini kan terdiri dari ribuan kelurahan serta kecamatan. Jika struktur organisasinya masih memakai budaya lama (pungli, korupsi dll) begitu bisa dibayangkan berapa miliar kerugian negara kalau semua pegawai kelurahan beraliansi untuk melakukan hal serupa.

NB : Saya menulis ini bukan untuk men-judge pihak terkait. Saya hanya ingin menginformasikan realita di wilayah saya berdomisili saat ini..

Terima Kasih

Iklan

Penulis: Senja Kelana

Seorang pria yang menyukai senja, tak terikat, bebas terkendali, dan menghargai perbedaan.

10 thoughts on “Kinerja pemerintah kelurahan yang masih pake duit ( Surat Pindah Nikah )”

      1. Menurut saya yang mas lakuin udah bener dengan nanya peruntukannya buat apa iurannya itu, seenggaknya mereka sedikit tersentil kan, mudah2an sadar. Saya pun pernah pas dulu ngurus ktp perpanjangan dulu zaman kuliah, saya ngotot minta tunjukin peraturan harus bayar ke petugasnya. Sampe dia males sendiri, eh ndilalah dikasih aj tuh ktp tanpa bayar hehe. Selebihnya peran aparat pemerintah di atasnya sih buat mengawasi supaya ngga ada pungli..

        Disukai oleh 1 orang

      2. Saya masih heran loh, (mereka) itu hidup di biayai negara tp masih saja kurang. Semoga kedepanya setelah artikel ini terbit bisa di tertibkan lagi ya. Karna setau saya pemerintahan pusat sudah cukup bagus, hanya saja yang di daerah” ini masih perlu pengawasan ekstra biar ga gae sakarepe dewe.

        Disukai oleh 1 orang

  1. Kalo gak ada aturan resminya harusnya ditolak secara halus. Ditolak secara halus karena oknum itu sudah membantu menguruskan membuat suratnya. Tapi kalau mau memberikan uang tips sebagai tanda terima kasih boleh juga, hehehe…

    Disukai oleh 1 orang

    1. Memaklumi segala sesuatu yg harusnya tak perlu dimaklumi akan membuat manusia mengikuti tradisi yg seharusnya sudah hilang.

      Kita ambil contoh memberi uang tips, menurut saya hal” yg begitu sama dengan uang suap karna tujuanya utk melancarkan keinginan kita. Kenapa kita hrus ksih tips ? Gaji mereka plus tunjangan”nya sdh lbh dr cukup itu, lagian itu sudah jadi tugas utama mereka. Jadi menurut saya sekalipun tidak ada aturan resminya sdh sepantasnya rakyat kita tidak membiasakan memberi uang tips pada perangakat negara (sekalipun tingkatanya kecil “kelurahan,kecamatan dlsb” )

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s