Celoteh minoritis indie, marjinal yang merdeka.!! Feodal Songong.!!

“Bebas” dan “Merdeka” itu saudara kembar. Tapi saya lebih suka yang terakhir kata “merdeka”. Rasanya lebih kaya. Juga kalau dibanding dengan padanannya dalam bahasa Inggris, “ free” atau “ liberal ”. Sebenarnya saya kasihan dengan kata “ liberal ”, yang sering diperlakukan tidak adil di Indonesia. Untuk beberapa kalangan kata ini sepertinya masuk golongan paria. Kasihan deh.

Saya agak kurang sreg dengan kata “bebas” karena kata bebas sudah dipoligami dengan tidak senonoh oleh orde baru sampai kehilangan identitas dan harus hidup satu atap dengan madunya “tanggungjawab”, “kebebasan yang bertanggungjawab”, mirip istri tua dan istri muda yang tak rukun. Ya ada rukunnya, kadang. Tapi masalahnya, siapa yang menentukan ukuran tanggungjawab itu? Bos di kantor. Guru di sekolah. Orangtua di rumah. Penguasa. Politikus. Ketua Partai. Ketua Forum. Ketua Dewan. Massa yang mengamuk ? Istilah “bebas yang bertanggungjawab” itu rawan dimanipulasi oleh mereka yang syahwat kekuasaannya over dosis.

(Intermezzo: tahukah Anda kata Indonesia yang diserap dalam bahasa Inggris? Yang saya tahu ada 4: “ sarong”, “ orangutan ”, “ sate ” dan “ amok ”. Kalau dijadikan satu, jadilah gambaran sinis tentang masyarakat Indonesia yang suka muncul di berita-berita asing: orang utan yang sudah pakai sarung, suka mengamuk dan menyate! )
Nah, kata “merdeka” rasanya masih lebih aman, setidaknya sampai sekarang. Silakan tempelkan kata itu ditempat dia suka. Berpikir merdeka. Bertindak merdeka. Menulis merdeka. Dan seterusnya, silakan merdeka dalam menggunakan kata merdeka, semerdeka-merdekanyalah.
Merdeka tentu tidak sama dengan berbuat semaunya. Mau terbang. Emang bisa? Jelas gak bisa.

Buat saya, merdeka itu artinya bukan itu. Saya punya pikiran, punya tubuh, punya masa lalu-kini-nanti. Betul, semua itu terbatas. Tapi dimana batasnya? Saya tidak pernah tahu batasnya. Hanya kalau saya melakukan eksplorasi, menyelami rahasia-rahasianya, saya mungkin ketemu batasnya. Tapi sampai sekarang saya belum sampai tuh ke perbatasan kemanusiaan saya. Saya percaya Tuhan Serba Maha. Dan saya ingin mengenalNya dengan cara mengeksplorasi apa yang sudah diberikan. Saya tidak sedang menantangNya. Saya sedang bersyukur, mengagumiNya kok dengan melakukan wisata ekplorasi ini.

Bagi saya merdeka, berarti mengeksplorasi pikiran, bakat, tubuh, hati, alam sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya. Saya mau pergi sampai keperbatasan saya. Itulah merdeka. Dengan semangat seperti itu, saya membaca semua teks-teks suci maupun tidak suci, surfing semua web yang senonoh maupun tidak senonoh, bertemu dengan tokoh besar atau kecil, yang buat saya semuanya besar dan memperkaya saya. Pokoknya siapa saja, termasuk membuka blog anda para bloggers yang suka kasih komentar maupun tidak. Anda tahu saya suka menjenguk dan memberi salam di blog Anda.

Ketika saya memilih menjadi merdeka itulah saya bisa bertemu dengan banyak pemikiran, keahlian dan permenungan yang justru memperkaya saya. Saya, anda, kita, memang terbatas. Tetapi ternyata batas saya terus diperluas, diperlebar, dan diperdalam, ketika saya mau menjadi merdeka. Lalu, apalagi akhirnya, kalau bukan saya malah tambah kagum dan hormat padaNya dan pada anda semua yang terus memperkaya kemanusian saya? So, mari berpikir merdeka, bertindak merdeka dan menulis merdeka.

Ada yang gak setuju? Terserah lah kalau masih juga ada yang mau mengharamkan. Tapi kalau tidak boleh pakai kata merdeka, emang kita mau dijajah Belanda lagi?

Hinadina Toleransi Bobrok Jelata Tolol, Bisa Apa ??!!!

Berbagai ketakutan atau keengganan yang terasa setiap kali ingin mengatakan atau melakukan yang benar itu sebabnya apa kalau bukan dalam rangka jualan? Takut dagangan ndak laku.
Yang dijual? Ya harga diri, untuk memuaskan lawan transaksi, demi dapat keuntungan berupa kenyamanan dan keamanan.

Waktu Pak Bos ngajak korup, tak berani bantah karena dapat mengancam keberlangsungan nafkah, mengganggu kelanjutan karir. Waktu Bu Ustajah berisik merem melek pake toa, juga takut protes, karena bisa dimarahi dan dibenci emak-emak sekampung. Waktu ada orang merokok dalam angkot, juga takut untuk memperingatkan, karena bisa mengancam citra kita sebagai jelata tolol yang saling nrimo dan bertoleransi.

Memang sejak kecil kita didoktrin untuk toleran, ramah, jadi bangsa yang ramah dan pengertian pada siapapun.Untuk selalu takut menyinggung perasaan orang. Saking kelewat ramahnya, di salah satu kampung di antaberanta sana, guru relijius yang meyodomi beberapa anak kecil cuma diusir, bukan dihukum. Mungkin takut menyinggung perasaan si tukang sodomi, tanpa memikirkan perasaan korban-korbannya :))

Nah, waktu itu pernah saya baca entah di mana, Ahok kurang lebih bilang gini: “1000 orang teman masih kurang, 1 musuh sudah kebanyakan…. Itu faham para pedagang. Tapi kalau mau membersihkan sistem yang korup, tiap hari kita bisa menciptakan 1000 musuh.”

Wah, bener juga ya. Dalam sistem yang busuk, mengusahakan kebenaran pasti mengancam nafkah orang yang hidupnya dari kebusukan. Lha kita saja sering rela jual harga diri demi kenyamanan dan keamanan, apalagi orang-orang yang kebahagiaan hidupnya bergantung pada lestarinya kebusukan? Jadi kalau situ orang bener ya ga usah manja atau sok njawani. Dapet musuh itu niscaya, nikmati aja.

Musim Kawin, Menikah itu harus katanya…

Tempo hari saat terjebak di suatu tempat yang tak penting, saya berhasil membuka Instagram lewat ponsel dan gatal-gatal karena membaca update beberapa teman tentang pernikahan. Membuat gatal karena quotes tersebut mengingatkan saya pada beberapa gadis yang saat ini sedang resah mencari pasangan hidup. Saya merasakan, para gadis pencari suami yang membacanya akan semakin dirundung gelisah. Weits, tidak, saya tidak sedang sok empatik atau carmuk lho! *penyangkalan*.

Sayangnya, internet di ponsel belum mengijinkan saya berkomentar (malahan tidak mengijinkan saya melanjutkan browsing).

Esoknya di rumah, masih dengan ponsel hanya saja sudah mendapat dukungan 4G , dengan kondisi sudah tercekik overquota, saya coba cari lagi thread tersebut. Dan gagal lagi karena saya bukan termasuk kaum yang sabar menghadapi timeout yang repetitif.
Eh, ini mau gosip soal kawin atau mau mengutuki takdir fakir benwit sih? Hehe, tentu saja bukan keduanya. Saya ini mau melunturkan mantra.

Sekarang, dengan koneksi yang semoga lebih baik, saya kembali ke topik sambil menjadikan masalah ini sebagai update blog daripada blog saya terlantar lalu berhantu.

Isi quotesnya kurang lebih menyatakan bahwa dengan menikah kita mendapat banyak pelajaran baru, mengembangkan dan meningkatkan kualitas diri, lebih berani menghadapi hidup dan jadi pribadi yang lebih bertanggung jawab terhadap komitmen. Dan kalau tak salah ujung-ujungnya mengajak agar yang belum menikah untuk segera menikah tapi semua disampaikan dengan cara yang agak sesuatu gitu . Dengan sudut pandang bias seorang yang belum menikah, saya langsung merasa diserang. Status itu jadi tampak err… rasis? Eh, apa ya? Sentimen antar ras disebut rasis, lalu kalau sentimen antara yang menikah dan belum menikah apa? Kawinis? Kawis? Apapun lah. Yang jelas status itu terasa meninggikan derajat mereka yang sudah menikah sambil merendahkan mereka yang belum/tidak menikah. 

Diperparah dengan jawaban dari mayoritas yang isi komentarnya menyindir mereka yang takut menikah. Beliau bilang bahwa orang yang takut menikah itu sama seperti menggunakan kaos kaki ukuran orang lain. Atau semacam itu. Yang pasti isinya terasa memperluas serangan, jadi tak sekedar menggelisahkan mereka yang desperate belum dapat pasangan, tapi juga pada mereka yang belum tertarik menikah.

Karena itulah saya merasa perlu untuk breaking the spell , membatalkan kesaktian dari pernyataan-pernyataan intimidatif dari para yth tersebut. Semoga bisa jadi pelipur lara untuk mereka yang belum menemukan pasangan atau yang belum tertarik menikah 🙂

Pertama
, soal anggapan bahwa pernikahan memberi pelajaran baru dan bla-bla lain yang berkonotasi baik. Itu benar. TAPI pernyataan itu juga benar saat kita terjun dalam apapun yang lain. Berteman dengan orang baru, bekerja di kantor baru, buka lapak usaha baru, buka ladang baru, dan apapun yang baru. Semua pasti memberi kita pelajaran-pelajaran baru. Termasuk jika memilih untuk tidak menikah ketika mayoritas orang menikah, itu pun bakal memberi banyak pelajaran baru. Tentu HANYA jika orangnya mampu dan mau reseptif terhadap pelajaran-pelajaran yang hadir sepanjang perjalanan. Kalau orangnya bebal dungu, sibuk menyesali nasib dan menuhankan selera mayoritas/orang lain, ya itulah takdir seorang budak. Menikah ataupun tidak, budak tetaplah budak. *apasih* 

Kedua , soal menumbuhkan tanggung jawab dan berkomitmen. Yatuhan, pleeeaase deh, itu juga benar sekaligus bisa tidak benar untuk apapun yang lain. Pernah ketemu sama orang yang buka bisnis baru lalu males ngurus? Atau daftar kuliah lalu mutung gak pernah masuk? Atau berjanji dan tak menepati? Dalam pernikahan yang sangat melatih tanggung jawab dan komitmen itu juga banyak orang yang ternyata tidak berubah jadi lebih bertanggung jawab. Yang jadi semakin liar juga banyak. Tidak sekedar mutung pisah ranjang, cerai, atau yang selingkuh diam-diam, banyak juga kok pasangan awet rajet yang merokok/mencandu sambil mengasapi anak-anaknya, meracuni dan ngajarin ga bener pada darah dagingnya sendiri. Sungguh bertanggungjawab sekali kan mereka-mereka itu? Hehe. Jika orangnya memang tidak mau berubah jadi lebih bertanggung jawab, tetap egois dan taat menyembah candu, mau lajang kesepian atau kawin berulang-ulang, selamanya ya akan tetap seperti itu.


Ketiga
, soal rasa takut yang muncul karena melihat kegagalan orang lain itu wajar kok. Kita takut ngebut, takut ditolak, takut pakai baju aneh, takut berwirausaha, takut beda dari mayoritas dan takut-takut yang lain. Mungkin rasa itu muncul karena melihat kegagalan / kecelakaan / kekonyolan orang lain. Atau juga karena kita memang takut terjun ke dalam hal baru. Kita takut terhadap banyak hal selain menikah, tidak perlu terlalu tersinggung ketika diolok-olok sebagai orang yang takut nikah. Andai saya sudah menikah lalu meledek Anda yang jomblo kesepian sebagai seorang yang takut nikah, pastilah bukan karena saya tahu kondisi dan alasan Anda yang sebenarnya, saya tak maha tahu. Saya meledek itu kalau bukan karena becanda, mungkin karena saya sedang dirundung ragu dan butuh penguatan diri. Rasa bangga sebagai orang berani menikah, akan jadi semacam placebo yang membantu saya untuk bertahan dalam pernikahan yang mungkin tidak seindah yang saya bayangkan sebelumnya. Lebih indah, atau lebih parah.

Keempat
, … eh, habis ya? Ya sudah, kesimpulan saja…

Jadi
, setiap kali Anda –para lajang dan jomblo kesepian– merasa terintimidasi oleh kalimat-kalimat terkesan sakti yang mempromosikan pernikahan, bedah saja pernyataannya. Mungkin sekali itu bermotif komersil atau sekedar deepity saja. Tapi hati-hati, jangan langsung dibantah semena-mena, bisa jadi si pembuat pernyataan sedang membully anda karena dirinya juga butuh penguatan untuk bertahan dalam pernikahan. Atau secara tidak langsung sedang memanipulasi pasangannya agar bertahan dalam pernikahan. Jika Anda bantah, bisa-bisa Anda menjerumuskan orang ke dalam perceraian.

Ingat, apa yang disatukan Tuhan, tak bisa dipisahkan manusia! Jadi kalau ternyata pisah juga, ya itu pasti kerjaan Tuhan, bukan salah manusianya.
Dan sedikit saran untuk kita semua yang ingin mempromosikan pernikahan, daripada bikin pembenaran aneh-aneh, mungkin lebih efektif mengutip atau memelintir ujaran-ujaran suci saja. Bilang kalau lajang itu tak disukai Tuhan yang maha esa, sedangkan menikah itu berpahala dan bisa masuk surga berkali-kali. Korban pasti lebih terintimidasi, plus kita juga merasa lebih berpahala. Pasangan yang ingin kita nikahi juga akan lebih tergerak hatinya.

Atau, bawa-bawa evolusi dan gunakan argumen berkembang biak. Spesies yang bisa bertahan sampai sekarang jelaslah hanya yang paling berhasil beranak pinak. Siapapun yang gagal bikin anak, tidak bakal ada kelanjutannya, pasti punah ditelan sejarah.

Selamat melanjutkan aktivitas, jangan lupa bikin anak 🙂

Salam Hangat untuk yang sedang hornymoon.
^____^

Si jalang nge-blog, Si binal pun nge-blog, lantas Si sexy juga turut meramaikanya.

​Si jalang nge-blog, Si binal pun nge-blog, lantas Si sexy juga turut meramaikanya. Anda kapan ? Ga bosen jadi followers ? Viewers yang selalu bergantung pada gugel. Tanpa turut serta meramaikan dunia per-inetan dengan segala bentuk pola pikir kalian yang masih dalam bentuk mindset tanpa aktualisasi penyampaian.

Jika anda sebagai pembaca terjerat kemari karna konten dewasa dalam mesin pencari di internet dan ingin mengulas lebih jauh tentang si (jalang) si (binal) maunpun si (sexy). Langkah terbaik serta tercepat adalah istigfar, segera brainwash, lalu mulai membaca isi artikel ini dengan baik dan benar, bahwa sesungguhnya kemajuan zaman era ini akan lebih berarti jika jempol tangan anda dipakai untuk menulis blog, daripada untuk kepoin si jalang ataupun si binal. Karna saat ini mereka-mereka yang telah terjerumus dalam jurang dosa sudah mulai terbiasa mempositifkan kemajuan zaman. Sekarang gilaran anda untuk melakukanya, anda yang jauh lebih intelek, posmodern, serta katarsis ataupun narsis bisa menyalurkanya melalui “blog”. 

Saya akan sedikit membagi hasil semedi saya disini, bahwa nge-blog sebeneranya adalah bukan hal yang sulit dan menjenuhkan. Malah sebaliknya, menyenangkan dan bisa menambah ilmu pengetehauan bagi kita karna artikel kawan-kawan blogger lainya. 

# Cara awal sederhana memulai nge-blog agar kalian tidak bosen untuk tetap nge-blog dan memiliki banyak teman disini, sehingga bisa memaksimalkan kemajuan internet untuk kemajuan dirisendiri, orang lain, orang sekelurahan, bahkan (mungkin) orang senegera. 
 

####ciaaatt
Hahahaaaa..

1. Tinggalkan komentar bermutu di blog milik orang lain, tentunya pada tulisan yang menarik minat anda. Beberapa dari pengunjung blog itu pasti akan membacanya. Apakah anda seorang pemikir, jihadis yang sadis, blogger mesum, atau pertamax wanabe akan terlukis samar di benak mereka. Dan bila mereka tertipu tertarik, mungkin akan mengikuti tautan menuju blog anda.


2. Berilah kemudahan dan kebebasan untuk berkomentar , biarkan pembaca berbagi gosip panas maupun pemikirannya yang menakjubkan. Biarkan mereka terlibat dalam diskusi, debat yang pantas ataupun hujatan yang bermutu. Komentar yang segar dan berkualitas jelas akan menambah bobot blog anda.


3. Ajukan pertanyaan dan jawablah pertanyaan-pertanyaan di forum, tentunya di thread diskusi yang berhubungan dengan blog anda. Dengan partisipasi aktif di komunitas yang lebih besar, orang-orang dengan minat sama mungkin akan terjaring dan tertarik mengunjungi blog anda, pastikan link blog anda tercantum di profil sosmed anda lainya  agar orang mudah menemukannya.


4. Di dunia yang tidak tulus ini, Jangan biarkan tulisan-tulisan anda membusuk dalam arsip bulan lalu. Berikan link menuju karya-karya lama anda setiap kali ada bahasan yang berhubungan. Tentunya bila memang masih layak baca.


5. Orang kembali mengunjungi blog anda biasanya karena punya pertanyaan “sekarang nulis tentang apa lagi nih orang?” Jadi jangan kecewakan mereka dengan blog yang lama tak di update, menulislah secara teratur . Pelanggan Pengunjung setia akan melupakan anda bila anda tidak memuaskan mereka dengan konten segar nan orgasmik



Sedikit tambahan (lagi) :


* Sebelum serius ngeblog, tentukan dulu, anda ingin jadi penulis yang terseret mengikuti selera pasar, atau idealis sok independen dengan pesan-pesan pencerahan bagi dunia? Atau malah kombinasi keduanya? Sambil peduli selera pasar, sambil menyampaikan idel-ide anda.


* Judul mesum, kosakata porno mungkin bisa menarik traffic dan menjaring para pencari konten seksual. Tapi harus diingat bahwa onta tidak jatuh 13 kali ke lubang yang sama, trik ini bisa-bisa malah membuat anda di cap sebagai manusia tolol yang selalu memanfaatkan kesempatan dalam konten dewasa, lebih parah lagi mungkin ada yang marah dan merequest google agar memblacklist situs anda. Jadi bila anda menggunakan trik seperti ini, pastikan pengunjung horny yang terjebak tidak terlalu kecewa ketika tidak menemukan apa yang mereka cari. Bahkan kalau bisa, berikan mereka “mainan” yang lebih menarik dan lebih berharga.


* Menanam sebiji tomat, kalau tidak mati, tumbuhnya pastilah juga tanaman tomat. Buahnya bisa saja sedikit dan kecil-kecil, tapi bisa juga banyak dan besar-besar. Hukum aksi reaksi mungkin berlaku juga atas para blogger, bila tulisan anda membuat dunia menjadi lebih rusak, mungkin anda juga akan menerima balasannya. Dan sebaliknya.



Sekian dulu, silahkan bila ingin mengomentari atau menambahkan, bila komentar anda luar biasa panjang, mending untuk bahan tulisan blog anda yang baru.

Faith ? 

Orang yang bagaimanakah sebetulnya orang yang baik?

Haruskah dia beragama? Dan apakah kalau beragama/berkepercayaan secara taat dia automatis bisa langsung dikategorikan sebagai seorang baik? Kalau tidak beragama, apakah dia langsung bisa dicap orang jelek? Jahat? Laknat? Seperti setan penghuni WC? Neraka untuknya? Takdirnya berenang dalam air comberan? Ataukah bisa juga dia seorang yang baik? Penuh kasih dan toleransi?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas akan saya bahas dalam posting lain.

Posting ini ialah ekspresi pemikiran saya pribadi mengenai perjalanan hidup. Bagaimana seseorang sebaiknya melakukan sesuatu, tidak peduli dia seorang yang beragama, seorang yang berkepercayaan atau seorang yang tidak menyembah siapapun. Karena ini bagi saya merupakan pendukung untuk mengerjakan sesuatu dengan baik dan ini merupakan salah satu langkah pertama untuk menjadi seorang yang baik.

Menurut kepercayaan yang saya ikuti dan menurut sanubari saya, sebelum melakukan/melaksanakan sesuatu pekerjaan atau aksi, kita harus melalui langkah-langkah berikut ini: “membaca”, merasakan, bertanya dan mengerti, meneliti/menyimaki pengertian yang kita peroleh kemudian melaksanakan dan setelah itu “menengok lagi ke belakang”. Saya sengaja tidak mencantumkan “berdoa”, karena hal ini untuk saya adalah sesuatu yang mutlak dan tidak perlu diperdebatkan, biarpun cara berdoa atau bersyukur tentu berbeda-beda.

1. Kenapa saya tulis “membaca” dalam tanda kutip? Karena maksud saya membaca bukan hanya membaca tulisan saja, tetapi juga “membaca” keadaan, lingkungan, situasi dll., dan tentu saja “membaca” sesama manusia yang terkait dengan pekerjaan atau aksi tersebut. Tentu saja penting juga membaca sumber tuntunan yang kita percayai. Al Qur’an untuk Islam, Injil untuk Kristen dst. Bagi agama atau kepercayaan yang tidak mempunyai guidelines tertulis, ya sumbernya adalah pengalaman-pengalaman para pendahulu (yang biasanya juga harus disimaki dengan sangat berhati-hati).

2. Merasakan: karena menurut sistem kepercayaan saya, “rasa” itu tidak kalah pentingnya dengan yang lain, bahkan kadang “rasa” itu bisa meluruskan akal yang keblinger.

3. Setelah itu, mungkin ada sesuatu yang masih mengganjal dalam hati, maka kita seharusnya bertanya-tanya untuk melengkapkan penerangan jalan yang akan kita tempuh. Tidak usah saya tulis lagi, kenapa kita harus berhati-hati juga dalam menerima dan meresapi jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang kita ajukan.

4. Langkah selanjutnya, kalau menurut jalan hidup saya, menyimaki pengertian yang kita peroleh itu. Apakah betul? Apakah ada yang masih harus diperhatikan? Terkadang masih ada saja batu sandungan yang tersembunyi di balik selembar daun dan masih bisa membuat kita jatuh.

5. Sekarang tentu saja datang giliran pelaksanaannya. Selama proses pelaksanaan tersebut, tentu saja kita tidak boleh mengabaikan, bahwa masih ada kemungkinan kesalahan yang masih terselip masih bisa diperbaiki atau kesalahan itu sebegitu kecil, sehingga tidak mempunyai pengaruh yang berarti bagi hal ini secara keseluruhan. Jadi kontrol selama pelaksanaan.

6. Pada ujung proses tersebut, sebaiknya kita “menengok kebelakang” sekali –dua kali lagi, untuk melihat, adakah kesalahan yang telah kita perbuat dan tidak terlihat atau adakah sesuatu yang masih bisa diperbaiki. Semua ini penting untuk bekal langkah-langkah di hidup kedepanya.

7. Semua itu tentu saja tidak terlepas dari kemurahan “Yang menciptakan kita“, baik Beliau kita sebut Allah, Brahma, Manitou, Thian, Tuhan atau apapun. Karena itu berdoa atau bersyukur merupakan landasan yang pokok bagi langkah-langkah kita. Tanpa dialog dengan yang Maha Kuasa, seolah kita melangkah di rawa-rawa.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita lihat banyak penganut-penganut agama atau kepercayaan-kepercayaan yang mengutamakan pelaksanaan peraturan-peraturan atau tuntunan-tuntunan yang dianut tanpa menengok ke kanan atau ke kiri. Setiap pertanyaan mengenai aturan-aturan itu dicap sebagai langkah menuju kemurtadan, setiap kritik dipandang sebagai persekongkolan dengan syaitan, setiap perbedaan dianggap sebagai dosa.

Contoh: setiap hari minggu ke gereja bagi kaum kristen, berdoa sebelum dan sesudah makan, dsb. Untuk kaum muslim setiap Jum’at ke masjid, lima kali sehari sholat dsb. Bagi yang pandai juga harus hafal ayat-ayat dalam Al Qur’an atau Injil. Banyak kaum muslim yang merasa harus memakai pakaian tertentu sebagai bukti ibadahnya, sebagai bukti imannya. Sebagai bukti, bahwa dia adalah seorang muslim/muslimah (yang baik).

Maksud saya tentu saja bukan mereka yang betul-betul setulus hati dan dengan segala kesederhanaan (seperti yang diajarkan) melakukan hal-hal itu dan tanpa memamer-mamerkannya serta melaknatkan yang berpendapat lain.
Memang aturan-aturan itu harus dilaksanakan dengan tujuan beribadah. Dengan tujuan mendekatkan diri dengan Tuhan atau Allah, untuk „berdialog“ dengan Beliau.

Tetapi, cukupkah semua itu?
Apakah beribadah hanya cukup dengan berdoa di gereja, merayakan hari Natal atau ke Masjid setiap Jum’at dan sholat 5 x sehari? Apakah hafal Al Qur’an dan bisa menyebut ayat-ayat tertentu dari Injil itu merupakan bukti religiositas seseorang?

Salah satu betuk ibadah, yang menurut saya pribadi malah salah satu yang terpenting, sering diabaikan, bahkan kadang tidak dikenal.

Apakah itu?

Mencintai semua ciptaan Tuhan, Tuhan menciptakan perbedaan-perbedaan yang kita lihat dan alami di hidup kita ini. Beliau berbuat sesuatu tidak tanpa tujuan, dan menurut kepercayaan yang kita semua anut (dan sering kita teriakkan): Tuhan atau Allah itu Maha Besar, Maha Penyayang, Maha Adil, Maha Pengampun dst. Tidak pernah saya mendengar atau membaca, bahwa Allah atau Tuhan itu Maha Murka, Maha Kejam, Maha Semaunya, Maha Tanpa Tujuan.


Jadi bukankah tujuanNya pasti tidak negatif atau jahat?


Kenapa kita tidak menghormati tujuan Beliau ini? Kenapa kita setiap hari, setiap detik melakukan dosa ini, dengan menyeret Nama Beliau ke lumpur kekotoran ?  Bukankah melalui beberapa NabiNya, beliau telah memberikan contoh dan tuntunan? Kenapa yang kita contoh hal-hal yang sepele, yang mungkin mempunyai arti bagi kesehatan, kenyamanan pribadi, kebersihan dsb. Yang mungkin bisa menimbulkan reaksi „Wah“ pada orang lain. „Wah alim.“, „Wah, taat.“, „Wah sudah haji.“, „Wah sudah ke Vatikan ketemu Paus.“, „Wah pinter bisa hafal Al Qur’an atau Injil.“ Dan Wah-Wahan yang lain.

Tetapi hal-hal yang juga penting dan berarti bagi kebersamaan kita dalam hidup ini tidak kita perhatikan, kadang kita lupakan? Apakah itu? Mungkin kita bisa memikirkan bersama, menemukannya dan lebih mengutamakannya?

Sebelum melaksanakannya. Saya menambahi dengan hal-hal di atas, yang pasti tidak bertentangan dengan ajaran agama anda, kalau anda mengerti maksud dan tujuan Tuhan/Nabi/Agama anda.

Maaf jika ada konten bacaan yang sifatnya kurang sopan, saya hanya mencoba menjabarkan opini subyektif yang sering terjadi di negara kebhinekaan ini. Apapun itu bentuk perbedaanya tetap jaga kebhinekaan semesta.

Pengendali Bahagia

Bicara tentang bahagia banyak macamnya, tapi kali ini saya hanya akan menjelaskan 2 type saja karna dua ini adalah pokok menurut saya yaitu bisa bahagia secara batinia ataupun secara lahiria ataupun bisa kedua duanya. Dan seharusnya memang manusia hidup sudah sepantasnya mendapatkan bahagia secara batinia maupun lahiria.
Karna banyaknya klasifikasi bahagia di semesta tak mungkin saya akan menjabarkan semuanya, karna setiap individu memiliki patokan untuk kebahagianya masing-masing. Dan itu tak akan mungkin bisa untuk diseragamkan. Semua bisa benar tergantung dari sudut mana kita menilai.

* Bahagia batinia : kebahagiaan yang didapat karna rasa senang dalam pikiran, dalam hati, serta dari kedalaman jiwa yang tak bisa di ketahui oleh orang lain selain pelaku bahagia itu sendiri. Bentuknya pun beraneka ragam, komunikasi yang terbuka serta impulsif kepada sesama manusia maupun dengan tuhan yang maha esa, rasa nyaman dalam setiap momentum hidup, segala bentuk aktifitas raga yang terselesaikan sesuai rencana, seks yang memuaskan dan terkendali serta hal-hal lainya yang bersifat intern dan tak akan mungkin nampak oleh indera pengelihatan orang lain. Karna kebahagiaan batin hanya dapat dirasakan bukan divisualkan, tentunya hanya hati dan pikiran yang bisa menjawabnya. Sehingga tak akan mungkin bisa disamakan antara kebagiaan batin individu satu dengan individu lainya. Maka dari itu jangan pernah menilai kebahagiaan seseorang hanya dari sudut visual, sebab ada kebahagiaan batin yang tak akan pernah tertangkap oleh mata. Harus bisa saling menghargai bahwa apa yang mereka pilih adalah kebahagiaan hakiki.

* Bahagia lahiria : Bahagia yang didapat berdasarkan apa yang ditangkap dan dirasa oleh panca indera kita. Sebentuk kebahagiaan yang bisa diapresiasikan melalui berbagai bentuk real, mayoritas mengukur bahagia lahiria berdasarkan tingkat strata sosial dari tiap masing-masing individu. Dan sering dikaitkan dengan uang, kekayaan, lifestyle dlsb. Namun saya disini menulis sebagai golongan minor, bukan mayoritas yang terus berasumsi. Jadi saya menilai orang yang bahagia secara lahiria adalah orang yang sehat walafiat, orang yang masih bisa merasakan kenyang meski dengan lauk seadanya, dan orang yang selalu tampak nyenyak dalam tidurnya sekalipun hanya beralaskan tikar.

Dua penjabaran klasifikasi bahagia diatas hanya sebagian kecil dari berjuta kebahagiaan yang telah dipersiapkan tuhan untuk seluruh umatnya. Tergantung masing-masing umat apakah menerimanya dengan iklas serta lapangdada atau malah selalu memperdebatkanya seolah-olah tuhan tidak adil karna memberi bentuk bahagia yang berbeda. 

Seberat apapun hidup yang terjalani jangan lupa untuk bahagia, manusia hidup dalam semesta memang ditakdirkan untuk selalu bahagia asal tidak berlebihan lantas kebablasan dan harus selalu bisa mawas diri dalam setiap moment bahagianya. Agar tidak terhanyut dalam kebahagiaan yang mungkin hanya bersifat semu belaka. Sekalipun mungkin pernah saya menjelaskan dalam tulisan saya beberapa waktu lalu bahwa hidup hanya menunda kekalahan, sebenarnya. Namun bukan berarti kita tak berhak bahagia, yang terpenting kita manusia harus bisa menjadi “Pengendali Bahagia” bukan dikendalikan bahagia, dengan begitu sekecil apapun bahagia yang kita terima atau kita rasakan adalah kebahagiaan yang hakiki adanya untuk kita.



Salam Bahagia..

^____^