Faith ? 

Orang yang bagaimanakah sebetulnya orang yang baik?

Haruskah dia beragama? Dan apakah kalau beragama/berkepercayaan secara taat dia automatis bisa langsung dikategorikan sebagai seorang baik? Kalau tidak beragama, apakah dia langsung bisa dicap orang jelek? Jahat? Laknat? Seperti setan penghuni WC? Neraka untuknya? Takdirnya berenang dalam air comberan? Ataukah bisa juga dia seorang yang baik? Penuh kasih dan toleransi?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas akan saya bahas dalam posting lain.

Posting ini ialah ekspresi pemikiran saya pribadi mengenai perjalanan hidup. Bagaimana seseorang sebaiknya melakukan sesuatu, tidak peduli dia seorang yang beragama, seorang yang berkepercayaan atau seorang yang tidak menyembah siapapun. Karena ini bagi saya merupakan pendukung untuk mengerjakan sesuatu dengan baik dan ini merupakan salah satu langkah pertama untuk menjadi seorang yang baik.

Menurut kepercayaan yang saya ikuti dan menurut sanubari saya, sebelum melakukan/melaksanakan sesuatu pekerjaan atau aksi, kita harus melalui langkah-langkah berikut ini: “membaca”, merasakan, bertanya dan mengerti, meneliti/menyimaki pengertian yang kita peroleh kemudian melaksanakan dan setelah itu “menengok lagi ke belakang”. Saya sengaja tidak mencantumkan “berdoa”, karena hal ini untuk saya adalah sesuatu yang mutlak dan tidak perlu diperdebatkan, biarpun cara berdoa atau bersyukur tentu berbeda-beda.

1. Kenapa saya tulis “membaca” dalam tanda kutip? Karena maksud saya membaca bukan hanya membaca tulisan saja, tetapi juga “membaca” keadaan, lingkungan, situasi dll., dan tentu saja “membaca” sesama manusia yang terkait dengan pekerjaan atau aksi tersebut. Tentu saja penting juga membaca sumber tuntunan yang kita percayai. Al Qur’an untuk Islam, Injil untuk Kristen dst. Bagi agama atau kepercayaan yang tidak mempunyai guidelines tertulis, ya sumbernya adalah pengalaman-pengalaman para pendahulu (yang biasanya juga harus disimaki dengan sangat berhati-hati).

2. Merasakan: karena menurut sistem kepercayaan saya, “rasa” itu tidak kalah pentingnya dengan yang lain, bahkan kadang “rasa” itu bisa meluruskan akal yang keblinger.

3. Setelah itu, mungkin ada sesuatu yang masih mengganjal dalam hati, maka kita seharusnya bertanya-tanya untuk melengkapkan penerangan jalan yang akan kita tempuh. Tidak usah saya tulis lagi, kenapa kita harus berhati-hati juga dalam menerima dan meresapi jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang kita ajukan.

4. Langkah selanjutnya, kalau menurut jalan hidup saya, menyimaki pengertian yang kita peroleh itu. Apakah betul? Apakah ada yang masih harus diperhatikan? Terkadang masih ada saja batu sandungan yang tersembunyi di balik selembar daun dan masih bisa membuat kita jatuh.

5. Sekarang tentu saja datang giliran pelaksanaannya. Selama proses pelaksanaan tersebut, tentu saja kita tidak boleh mengabaikan, bahwa masih ada kemungkinan kesalahan yang masih terselip masih bisa diperbaiki atau kesalahan itu sebegitu kecil, sehingga tidak mempunyai pengaruh yang berarti bagi hal ini secara keseluruhan. Jadi kontrol selama pelaksanaan.

6. Pada ujung proses tersebut, sebaiknya kita “menengok kebelakang” sekali –dua kali lagi, untuk melihat, adakah kesalahan yang telah kita perbuat dan tidak terlihat atau adakah sesuatu yang masih bisa diperbaiki. Semua ini penting untuk bekal langkah-langkah di hidup kedepanya.

7. Semua itu tentu saja tidak terlepas dari kemurahan “Yang menciptakan kita“, baik Beliau kita sebut Allah, Brahma, Manitou, Thian, Tuhan atau apapun. Karena itu berdoa atau bersyukur merupakan landasan yang pokok bagi langkah-langkah kita. Tanpa dialog dengan yang Maha Kuasa, seolah kita melangkah di rawa-rawa.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita lihat banyak penganut-penganut agama atau kepercayaan-kepercayaan yang mengutamakan pelaksanaan peraturan-peraturan atau tuntunan-tuntunan yang dianut tanpa menengok ke kanan atau ke kiri. Setiap pertanyaan mengenai aturan-aturan itu dicap sebagai langkah menuju kemurtadan, setiap kritik dipandang sebagai persekongkolan dengan syaitan, setiap perbedaan dianggap sebagai dosa.

Contoh: setiap hari minggu ke gereja bagi kaum kristen, berdoa sebelum dan sesudah makan, dsb. Untuk kaum muslim setiap Jum’at ke masjid, lima kali sehari sholat dsb. Bagi yang pandai juga harus hafal ayat-ayat dalam Al Qur’an atau Injil. Banyak kaum muslim yang merasa harus memakai pakaian tertentu sebagai bukti ibadahnya, sebagai bukti imannya. Sebagai bukti, bahwa dia adalah seorang muslim/muslimah (yang baik).

Maksud saya tentu saja bukan mereka yang betul-betul setulus hati dan dengan segala kesederhanaan (seperti yang diajarkan) melakukan hal-hal itu dan tanpa memamer-mamerkannya serta melaknatkan yang berpendapat lain.
Memang aturan-aturan itu harus dilaksanakan dengan tujuan beribadah. Dengan tujuan mendekatkan diri dengan Tuhan atau Allah, untuk „berdialog“ dengan Beliau.

Tetapi, cukupkah semua itu?
Apakah beribadah hanya cukup dengan berdoa di gereja, merayakan hari Natal atau ke Masjid setiap Jum’at dan sholat 5 x sehari? Apakah hafal Al Qur’an dan bisa menyebut ayat-ayat tertentu dari Injil itu merupakan bukti religiositas seseorang?

Salah satu betuk ibadah, yang menurut saya pribadi malah salah satu yang terpenting, sering diabaikan, bahkan kadang tidak dikenal.

Apakah itu?

Mencintai semua ciptaan Tuhan, Tuhan menciptakan perbedaan-perbedaan yang kita lihat dan alami di hidup kita ini. Beliau berbuat sesuatu tidak tanpa tujuan, dan menurut kepercayaan yang kita semua anut (dan sering kita teriakkan): Tuhan atau Allah itu Maha Besar, Maha Penyayang, Maha Adil, Maha Pengampun dst. Tidak pernah saya mendengar atau membaca, bahwa Allah atau Tuhan itu Maha Murka, Maha Kejam, Maha Semaunya, Maha Tanpa Tujuan.


Jadi bukankah tujuanNya pasti tidak negatif atau jahat?


Kenapa kita tidak menghormati tujuan Beliau ini? Kenapa kita setiap hari, setiap detik melakukan dosa ini, dengan menyeret Nama Beliau ke lumpur kekotoran ?  Bukankah melalui beberapa NabiNya, beliau telah memberikan contoh dan tuntunan? Kenapa yang kita contoh hal-hal yang sepele, yang mungkin mempunyai arti bagi kesehatan, kenyamanan pribadi, kebersihan dsb. Yang mungkin bisa menimbulkan reaksi „Wah“ pada orang lain. „Wah alim.“, „Wah, taat.“, „Wah sudah haji.“, „Wah sudah ke Vatikan ketemu Paus.“, „Wah pinter bisa hafal Al Qur’an atau Injil.“ Dan Wah-Wahan yang lain.

Tetapi hal-hal yang juga penting dan berarti bagi kebersamaan kita dalam hidup ini tidak kita perhatikan, kadang kita lupakan? Apakah itu? Mungkin kita bisa memikirkan bersama, menemukannya dan lebih mengutamakannya?

Sebelum melaksanakannya. Saya menambahi dengan hal-hal di atas, yang pasti tidak bertentangan dengan ajaran agama anda, kalau anda mengerti maksud dan tujuan Tuhan/Nabi/Agama anda.

Maaf jika ada konten bacaan yang sifatnya kurang sopan, saya hanya mencoba menjabarkan opini subyektif yang sering terjadi di negara kebhinekaan ini. Apapun itu bentuk perbedaanya tetap jaga kebhinekaan semesta.

Iklan

Penulis: Senja Kelana

Seorang pria yang menyukai senja, tak terikat, bebas terkendali, dan menghargai perbedaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s