Musim Kawin, Menikah itu harus katanya…

Tempo hari saat terjebak di suatu tempat yang tak penting, saya berhasil membuka Instagram lewat ponsel dan gatal-gatal karena membaca update beberapa teman tentang pernikahan. Membuat gatal karena quotes tersebut mengingatkan saya pada beberapa gadis yang saat ini sedang resah mencari pasangan hidup. Saya merasakan, para gadis pencari suami yang membacanya akan semakin dirundung gelisah. Weits, tidak, saya tidak sedang sok empatik atau carmuk lho! *penyangkalan*.

Sayangnya, internet di ponsel belum mengijinkan saya berkomentar (malahan tidak mengijinkan saya melanjutkan browsing).

Esoknya di rumah, masih dengan ponsel hanya saja sudah mendapat dukungan 4G , dengan kondisi sudah tercekik overquota, saya coba cari lagi thread tersebut. Dan gagal lagi karena saya bukan termasuk kaum yang sabar menghadapi timeout yang repetitif.
Eh, ini mau gosip soal kawin atau mau mengutuki takdir fakir benwit sih? Hehe, tentu saja bukan keduanya. Saya ini mau melunturkan mantra.

Sekarang, dengan koneksi yang semoga lebih baik, saya kembali ke topik sambil menjadikan masalah ini sebagai update blog daripada blog saya terlantar lalu berhantu.

Isi quotesnya kurang lebih menyatakan bahwa dengan menikah kita mendapat banyak pelajaran baru, mengembangkan dan meningkatkan kualitas diri, lebih berani menghadapi hidup dan jadi pribadi yang lebih bertanggung jawab terhadap komitmen. Dan kalau tak salah ujung-ujungnya mengajak agar yang belum menikah untuk segera menikah tapi semua disampaikan dengan cara yang agak sesuatu gitu . Dengan sudut pandang bias seorang yang belum menikah, saya langsung merasa diserang. Status itu jadi tampak err… rasis? Eh, apa ya? Sentimen antar ras disebut rasis, lalu kalau sentimen antara yang menikah dan belum menikah apa? Kawinis? Kawis? Apapun lah. Yang jelas status itu terasa meninggikan derajat mereka yang sudah menikah sambil merendahkan mereka yang belum/tidak menikah. 

Diperparah dengan jawaban dari mayoritas yang isi komentarnya menyindir mereka yang takut menikah. Beliau bilang bahwa orang yang takut menikah itu sama seperti menggunakan kaos kaki ukuran orang lain. Atau semacam itu. Yang pasti isinya terasa memperluas serangan, jadi tak sekedar menggelisahkan mereka yang desperate belum dapat pasangan, tapi juga pada mereka yang belum tertarik menikah.

Karena itulah saya merasa perlu untuk breaking the spell , membatalkan kesaktian dari pernyataan-pernyataan intimidatif dari para yth tersebut. Semoga bisa jadi pelipur lara untuk mereka yang belum menemukan pasangan atau yang belum tertarik menikah 🙂

Pertama
, soal anggapan bahwa pernikahan memberi pelajaran baru dan bla-bla lain yang berkonotasi baik. Itu benar. TAPI pernyataan itu juga benar saat kita terjun dalam apapun yang lain. Berteman dengan orang baru, bekerja di kantor baru, buka lapak usaha baru, buka ladang baru, dan apapun yang baru. Semua pasti memberi kita pelajaran-pelajaran baru. Termasuk jika memilih untuk tidak menikah ketika mayoritas orang menikah, itu pun bakal memberi banyak pelajaran baru. Tentu HANYA jika orangnya mampu dan mau reseptif terhadap pelajaran-pelajaran yang hadir sepanjang perjalanan. Kalau orangnya bebal dungu, sibuk menyesali nasib dan menuhankan selera mayoritas/orang lain, ya itulah takdir seorang budak. Menikah ataupun tidak, budak tetaplah budak. *apasih* 

Kedua , soal menumbuhkan tanggung jawab dan berkomitmen. Yatuhan, pleeeaase deh, itu juga benar sekaligus bisa tidak benar untuk apapun yang lain. Pernah ketemu sama orang yang buka bisnis baru lalu males ngurus? Atau daftar kuliah lalu mutung gak pernah masuk? Atau berjanji dan tak menepati? Dalam pernikahan yang sangat melatih tanggung jawab dan komitmen itu juga banyak orang yang ternyata tidak berubah jadi lebih bertanggung jawab. Yang jadi semakin liar juga banyak. Tidak sekedar mutung pisah ranjang, cerai, atau yang selingkuh diam-diam, banyak juga kok pasangan awet rajet yang merokok/mencandu sambil mengasapi anak-anaknya, meracuni dan ngajarin ga bener pada darah dagingnya sendiri. Sungguh bertanggungjawab sekali kan mereka-mereka itu? Hehe. Jika orangnya memang tidak mau berubah jadi lebih bertanggung jawab, tetap egois dan taat menyembah candu, mau lajang kesepian atau kawin berulang-ulang, selamanya ya akan tetap seperti itu.


Ketiga
, soal rasa takut yang muncul karena melihat kegagalan orang lain itu wajar kok. Kita takut ngebut, takut ditolak, takut pakai baju aneh, takut berwirausaha, takut beda dari mayoritas dan takut-takut yang lain. Mungkin rasa itu muncul karena melihat kegagalan / kecelakaan / kekonyolan orang lain. Atau juga karena kita memang takut terjun ke dalam hal baru. Kita takut terhadap banyak hal selain menikah, tidak perlu terlalu tersinggung ketika diolok-olok sebagai orang yang takut nikah. Andai saya sudah menikah lalu meledek Anda yang jomblo kesepian sebagai seorang yang takut nikah, pastilah bukan karena saya tahu kondisi dan alasan Anda yang sebenarnya, saya tak maha tahu. Saya meledek itu kalau bukan karena becanda, mungkin karena saya sedang dirundung ragu dan butuh penguatan diri. Rasa bangga sebagai orang berani menikah, akan jadi semacam placebo yang membantu saya untuk bertahan dalam pernikahan yang mungkin tidak seindah yang saya bayangkan sebelumnya. Lebih indah, atau lebih parah.

Keempat
, … eh, habis ya? Ya sudah, kesimpulan saja…

Jadi
, setiap kali Anda –para lajang dan jomblo kesepian– merasa terintimidasi oleh kalimat-kalimat terkesan sakti yang mempromosikan pernikahan, bedah saja pernyataannya. Mungkin sekali itu bermotif komersil atau sekedar deepity saja. Tapi hati-hati, jangan langsung dibantah semena-mena, bisa jadi si pembuat pernyataan sedang membully anda karena dirinya juga butuh penguatan untuk bertahan dalam pernikahan. Atau secara tidak langsung sedang memanipulasi pasangannya agar bertahan dalam pernikahan. Jika Anda bantah, bisa-bisa Anda menjerumuskan orang ke dalam perceraian.

Ingat, apa yang disatukan Tuhan, tak bisa dipisahkan manusia! Jadi kalau ternyata pisah juga, ya itu pasti kerjaan Tuhan, bukan salah manusianya.
Dan sedikit saran untuk kita semua yang ingin mempromosikan pernikahan, daripada bikin pembenaran aneh-aneh, mungkin lebih efektif mengutip atau memelintir ujaran-ujaran suci saja. Bilang kalau lajang itu tak disukai Tuhan yang maha esa, sedangkan menikah itu berpahala dan bisa masuk surga berkali-kali. Korban pasti lebih terintimidasi, plus kita juga merasa lebih berpahala. Pasangan yang ingin kita nikahi juga akan lebih tergerak hatinya.

Atau, bawa-bawa evolusi dan gunakan argumen berkembang biak. Spesies yang bisa bertahan sampai sekarang jelaslah hanya yang paling berhasil beranak pinak. Siapapun yang gagal bikin anak, tidak bakal ada kelanjutannya, pasti punah ditelan sejarah.

Selamat melanjutkan aktivitas, jangan lupa bikin anak 🙂

Salam Hangat untuk yang sedang hornymoon.
^____^

Iklan

Penulis: Senja Kelana

Seorang pria yang menyukai senja, tak terikat, bebas terkendali, dan menghargai perbedaan.

10 thoughts on “Musim Kawin, Menikah itu harus katanya…”

    1. Nanti kalau birokrat di departmen agama sudah bisa toleransi, tidak ada lg pungli (sekalipun dr instansi terkecil “kelurahan & kecamatan” ) dan tentunya kalau sudah ada bidadari yg siap utk menikah secara modern (tanpa perlu memikirkan tradisi lama yg basbang serta pesta pora yg ribet hanya utk meninggikan prestige) karna menurut ak menikah itu awal memulai babak kehidupan baru, alangkah lbh bijak jika anggaran sekian puluh juta itu utk membina keluarga yg baru drpd hanya utk seremonial mengikuti tradisi lama.

      Suka

    1. Maka dari itu saya mencoba membuat mereka” (wanita) yang belum menikah agar ttp staycool. Drpd buru” nikah karna sesuatu alasan yg kurang teruji mutunya. Ujung”nya malah cerai nantinya, mending ttp tenang dan terus berdoa agar di segerakan jodohnya. 😀

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s