Hinadina Toleransi Bobrok Jelata Tolol, Bisa Apa ??!!!

​

Berbagai ketakutan atau keengganan yang terasa setiap kali ingin mengatakan atau melakukan yang benar itu sebabnya apa kalau bukan dalam rangka jualan? Takut dagangan ndak laku.
Yang dijual? Ya harga diri, untuk memuaskan lawan transaksi, demi dapat keuntungan berupa kenyamanan dan keamanan.

Waktu Pak Bos ngajak korup, tak berani bantah karena dapat mengancam keberlangsungan nafkah, mengganggu kelanjutan karir. Waktu Bu Ustajah berisik merem melek pake toa, juga takut protes, karena bisa dimarahi dan dibenci emak-emak sekampung. Waktu ada orang merokok dalam angkot, juga takut untuk memperingatkan, karena bisa mengancam citra kita sebagai jelata tolol yang saling nrimo dan bertoleransi.

Memang sejak kecil kita didoktrin untuk toleran, ramah, jadi bangsa yang ramah dan pengertian pada siapapun.Untuk selalu takut menyinggung perasaan orang. Saking kelewat ramahnya, di salah satu kampung di antaberanta sana, guru relijius yang meyodomi beberapa anak kecil cuma diusir, bukan dihukum. Mungkin takut menyinggung perasaan si tukang sodomi, tanpa memikirkan perasaan korban-korbannya :))

Nah, waktu itu pernah saya baca entah di mana, Ahok kurang lebih bilang gini: “1000 orang teman masih kurang, 1 musuh sudah kebanyakan…. Itu faham para pedagang. Tapi kalau mau membersihkan sistem yang korup, tiap hari kita bisa menciptakan 1000 musuh.”

Wah, bener juga ya. Dalam sistem yang busuk, mengusahakan kebenaran pasti mengancam nafkah orang yang hidupnya dari kebusukan. Lha kita saja sering rela jual harga diri demi kenyamanan dan keamanan, apalagi orang-orang yang kebahagiaan hidupnya bergantung pada lestarinya kebusukan? Jadi kalau situ orang bener ya ga usah manja atau sok njawani. Dapet musuh itu niscaya, nikmati aja.

Iklan

Penulis: Senja Kelana

Seorang pria yang menyukai senja, tak terikat, bebas terkendali, dan menghargai perbedaan.

5 thoughts on “Hinadina Toleransi Bobrok Jelata Tolol, Bisa Apa ??!!!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s