Keracunan Internet, Sosmed, Idealistic Melting.

Semakin kesini kok semakin malas berpikir. Lihat berita menarik, langsung klik share. Kalaupun komentar sedikit, ujungnya tetap share. Tombol untuk mensosialisasikan apapun jadi fokus utama dari kegiatan online.

Jadinya seperti buruh rendahan di institusi pendidikan komersial yang kerjanya hanya meneruskan informasi. Sama-sama tanpa dicerna. Bedanya adalah mereka dibayar dan tampak keren, saya tidak.

Parahnya, baru klik share, atau like, sudah datang lagi gelombang informasi yang tak akan ada habisnya. Dan saya terus mangap, melahap semuanya dengan tatapan kosong.

Hari-hari yang mestinya meditatif dan kreatif berubah jadi hari sibuk tak jelas. Kebanjiran informasi. Seperti orang yang tak sadar makan terus dengan buasnya, terus menelan apapun hingga perut tak sempat mencerna. Sukses obesitas tanpa ada energi yang sampai ke otak, habis untuk jadi timbunan lemak… Eh… Timbunan informasi tak berguna.

Waktunya kembali ke ruang nakhoda. Lama sudah tak pegang kendali.

Iklan

Saya sih pilih sipil ^ ^

​”Dipimpin militer atau sipil?”
“Ya gimanapun pilih sipil lah! Kecuali kalau lawannya kaum radikal, baru gw pilih militer” Masih begitu terus pendapat banyak orang di banyak forum. Jadi wajar kalau militer selalu punya hubungan benci tapi cinta dengan kelompok radikal. Wajahnya kelihatan tak akur, tapi sering dicurigai ikut mendanai, membiarkan, atau diam-diam giat melestarikan.

“Usut siapa dibelakangnya, cari tahu siapa yang mendanai!” kata siapa itu, lupa saya…heheee…yang sepertinya yakin betul bahwa Polisi sebenarnya juga sudah tahu.

Mungkin benar, selama ini juga sudah tahu, tapi ya karena itu tadi. Terror dan kekacauan yang ditimbulkan kelompok radikal, memang menguntungkan militer. Memang berat sekali, kalau kita harus menolak sesuatu yang sangat lezat dan menguntungkan kita. Pasti lebih berat dari menolak keperawanan.

Jangan salah pilih, kita bosnya. Jika ada yang salah dalam sebuah instansi demokrasi berarti yang bodoh adalah kita yang memilih, kita sebagai bosnya demokrasi itu sendiri. Mereka yang duduk di ruang ber-ac dan beratribut rapi adalah pembantu kita.
Siapapun pemimpinya harus bisa berlapangdada untuk pekalah, jangan anarki !!! Pemenang sesungguhnya adalah mereka yang dewasa dalam hal pemikiran serta tindakan.
C…U
^___^

Bukan saatnya untuk memuja kelamin belaka !!!

​Kapan nih kita ketemuan? Udah lama tidak memuja kelamin bareng-bareng..

Bukankah kita sudah terlalu dewasa untuk itu?



Terlalu dewasa untuk memuja kelamin? Lu masih normal kan?

Ya masih. Tapi kita sudah dewasa, memuja-muja itu kan bagi mereka yang belum cukup umur.



Maksud lu?

Ya persis seperti bertuhan. Memuja-muja tanpa menyentuh, sambil teriak-teriak, itu cuma dilakukan oleh mereka yang belum dewasa. Sekedar ditunaikan membabibuta demi mimpi mendapat surga di alam kapan-kapan kalau sudah mati.

Emang kalau dewasa gimana?

Mereka yang dewasa tidak lagi sebatas menjerit-pilu-memuja Tuhan dari jauh, tapi levelnya sudah memeluk erat dan mencengkeram leher Tuhan, lalu menggunakannya untuk meraih surga. Sekarang juga di dunia. Tidak perlu menunggu mati dulu.

Haaa, kok bisa? Menggunakan Tuhan untuk meraih surga saat ini juga? Gimana tu?

Orang yang keberketuhanannya sudah dewasa mampu mengarahkan Tuhan untuk memanipulasi pikiran orang yang belum dewasa. Di bawah kendali mereka, Tuhan bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, mulai dari menimbulkan rasa damai, semangat, optimisme, rasa syukur… dan bisa juga untuk membangkitkan kebencian, kemarahan dan memicu amuk massa.




Ah, teoriiii… Ada contoh nyata?

Lha itu, pemimpin ormas pecinta kekerasan. Perhatikan betapa lihai mereka membangkitkan kebencian dan kemarahan. Mereka mampu memanfaatkan Tuhan untuk memicu murka ribuan massa agar menyerang siapapun yang mereka tak suka. Perhatikan juga gimana motivator rohani lihai jualan Tuhan sehingga seminar-seminarnya laku keras. Atau penceramah kampung yang suka blokir jalan sampai lu susah pulang, atau suka jerit-jerit di panggung sampai bikin lu susah tidur, dia itu pandai menggunakan Tuhan untuk meraup beramplop-amplop rupiah. Atau yang baik, mampu menggunakan Tuhan untuk mengumpulkan milyaran rupiah demi membantu fakir miskin yang ditelantarkan negara.

Yeee, itu agama kaleee, bukan Tuhan.

Apa bedanya? Ketika sesuatu dianggap sebagai paling suci, bukankah itu menjadi Tuhan? Lagian yang gw bahas bukan “Tuhan itu apa”, tapi bagaimana “bertuhan”, secara lugu dan secara dewasa, dalam rangka menjelaskan tuduhan gw atas proposal pemujaan kelamin lu ituuuh… 

Ooooh, ok. Kenapa gw tersesat ya barusan, hehe. Trus kaitannya apa sama pemujaan kelamin? Cara memuja yang dewasa tu gimana?

Ya jangan cuma dipuja-puja. Tapi dipakai. Pergunakan secara tepat untuk meraih tujuan-tujuan lu. Untuk menciptakan surga di bumi 🙂

I see…. Tentunya surga versi gw ya?

Tul! Gih sana cari partner atau cari umat!




Dasar setan.!!!

Kenapa jadi setan? Gw kan cuma menyampaikan pendapat gw doang.




Ya setahu gw, setan itu simbol keingintahuan, pemberontakan dan kehausan akan pengetahuan. Kisah Adam Hawa tuh, coba ingat. Seandainya Adam dan Hawa tidak tergoda setan untuk “ingin tahu” dan makan buah “pengetahuan”, selamanya manusia cuma jadi budak yang cuma bisa patuh dan taat pada (para pengendali) Tuhan. Tidak bakalan berkembang. Selamanya nyaman dalam surga ketidaktahuan. Untung setan rela berkorban, dimurkai dan dijanjikan neraka yang kekal abadi demi menggoda manusia dengan pengetahuan.

Waw, keren tuh cerita. Memang keingintahuan dan pengetahuan bisa bikin gelisah. Asli neraka banget tuh.




Blah. Ya sudah, kapan nih ketemuan? Sabtu? 

Umm… Kalau Tuhan mengijinkan yaaa…




Ngapain lu melibatkan Tuhan?

Sekedar mempersiapkan Tuhan saja. Kalau ternyata nanti batal ya artinya Tuhan tidak mengijinkan, lu tidak perlu menyalahkan gw yang lugu tak berdosa ini, silakan langsung menyalahkan Tuhan saja, gitu…




Hmmm… baiklah… SETAN!

hahahahaaaa..