Perang dunia jilid 3 ???

‚ÄčApa jadinya jika perang dunia jilid III terjadi ???


Jawaban ter-optimis dan cukup masuk nalar sehat “mengkesampingkan pikiran jahat maupun pikiran mesum” 

(Gak AKAN pernah terjadi perang dunia jilid III) 

# Lalu untuk apa akhir-akhir kemarin negara blok timur maupun blok barat pamer senjata uji coba nuklir mereka ?? (Anggap saja norak, ingin dapat pengakuan dunia bahwa mereka bisa membuat senjata nuklir maha dasyat untuk menciptakan kiamat dadakan, kiamat kecil setingan manusia)

# yakin lu nja ?? Yang bener !!! (Menurut ajaran sejak lahir, hendaknya kita memang harus yakin dengan hal-hal yang optimis dan membangun. Sekalipun dalam hati ragu tapi jangan dinampakkan depan media. Karna itu bisa bahaya, siapa tau ada jurnalis atau wartawan yang hobinya propaganda secara kebetulan perlu dana untuk melunasi cicilan kulkas mereka. Tamat kita !!!)

# ah lu bisa aja ngelesnya, super banget. Asal lu tau ya, negeri ini berada di tengah-tengah antara blok barat dan blok timur. Sekalipun nantinya “mungkin” kita bersikap netral terhadap kedua kubu yang sedang berperang, mau atau gak mau, suka ataupun gak suka nantinya pasti kita akan menentukan pilihan untuk membela blok mana yang perlu di bantu agar memenangkan peperangan. Karna hanya sebuah alasan konyol bin gila yang pernah terbaca menyebutkan negeri ini sangat strategis untuk dijadikan arena perang, mengingat luas wilayah yang memadai, serta SDA yang mumpuni untuk pangan pelaku perang. (Daya halu -nya terlalu ekstrim lu, suka nonton rambo sih. Lu kira perang enak ? Bisa tembak-tembakan sambil lari-larian menyelamatkan janda-janda sexy yang kehilangan suaminya di medan tempur,, lalu menang,, kemudian memutuskan untuk poligami dengan alibi untuk mengayomi janda sexy,, lalu beranak pinak kembali layaknya kelinci,, di peradaban yang baru, yang jelas tidak akan mengkiblatkan dollar lagi dan happy ending !!! Itu kalau menang,, lah kalau kalah ?? Bisa ngemper kolong jembatan lu, ndempis kayak tikus got yang takut diterkam kucing kudis.)

# makanya itu, kita juga harus punya plan jangka panjang mulai sekarang serta mempertimbangkan semua probabilitas yang ada dalam peperangan yang mungkin saja bisa terjadi sewaktu waktu, berpikir cerdas kira-kira blok mana yang akan menang, itu yang akan kita bela. Biar kita bisa merdeka sekali lagi..hahahaaaa (ah,, elu,, generasi muda macam apa lu ini, selalu saja membudak demi kenyamanan serta keamanan diri sendiri hingga melupakan harga diri !!! Asal lu tau ya, sekalipun mungkin daya halu -nya elu bener kejadian,, dan,, jedeueerrr,,, perang dunia III pecah, kita gak perlu takut. Kita punya jutaan militer yang teruji ko untuk stabilitas negara, belum lagi ribuan para dukun sakti yang cukup hanya dengan rapalan mantranya bisa kebal senjata dan bisa kirim teluk atau santet, ditambah lagi pasukan ormas yang cinta kekerasan dlsb yang bersifat mahaberani mati. Gw yakin tinggal call-call mereka aman dah negara. Jadi lu gak usah repot mikir gimana nanti kalau perang dunia III bener terjadi, mending lu mikir gimana cara untuk segera halalin berta, kasian denger curcol doi yang lu suruh nungging tiap minggu tapi kagak di sah-sahin. Wuhahahahaaa…!!!)

# setan lu, gua ajak mikir serius demi bangsa dan negara, lu malah bahas berta endingnya…(kenapa gua yang jadi setan, lu yang sesat padahal !!! Andai saja dunia ini memang milik lu dan moyanglu dan cukup sanak sodara lu yang menghuni, lu bebas aja ber-delusi seperti itu, lu bebas mau nentuin perang dunia dalam sebulan 5x juga gak ada soal, toh yang akan jadi korban cuma sanak famili keluarga elu. Lah disini kita ngomongin dunia dalam konteks nyata, dunia yang memang semakin amburadul, semakin tua dan rentan karna keserakahan manusia yang selalu merasa kurang puas dalam hidupnya. Sekalipun begitu janganlah membuat kiamat dengan cara peperangan berjuta umat, cukup mereka yang pikiranya kerdil, yang tak pernah bisa terima perbedaan sekaligus demen berantem dan saling bunuh. Kita jangan !!! Perang bisa dihindari jika mulai sekarang kita tidak lagi memaksakan kebeneran kita terhadap persepsi pembenaran yang lain, tak perlu lagi berebut dalam bentuk apapun dari semua aspek yang bisa menumpulkan nurani ideologi diri kita sebagai manusia, percaya saja jika DIA itu adalah MAHA segalanya. Saling mengasihi sesama makhluk-NYA, menjaga keutuhan ciptaan-NYA serta mengamalkan pemberian-NYA. Jika seluruh ras manusia bisa sadar diri lalu menjalankan titah agung milik-NYA tersebut gua pikir delusi konyol lu itu akan selamanya cuma ada dalam awang-awang lu saja. Dan akan…)

# Stop !!! Sudah-sudah cukup, jangan diterusin wacana lu. Abis waktu gua. Mending mikirin atraksi baru untuk berta biar kagak monoton 69 mulu. Hahaaa. (Hashhh…sialan)

Dia Adalah….

Sebelum samar “DIA” begitu terang, Dulu.

Satu kalimat, Satu kata. Banyak makna, mari ber-intuisi. Silakan bebas mengartikan tentang “DIA” dalam setiap pemahaman nalar kalian, bahwa memang tak bisa dipungkiri jika hidup hanyalah menunda kekalahan.

Saya sendiri mengartikan DIA dengan harapan, perjuangan, dan doa yang belum terjawab.

* Sebelum samar “DIA” begitu terang. Dulu.
Dia adalah Harapan : sebuah ketidakmungkinan yg bisa terjadi dalam semalam, dengan sekuat tenaga saya selalu memberi asa dalam tiap langkah saya, agar ketidakmungkinan itu bisa terijaba. Namun pasti ada kendala dalam setiap perjalanan hidup manusia seakan harapan yang dulu begitu nyata tiba-tiba menjadi samar. Dan menghilang.

* Sebelum samar “DIA” begitu terang. Dulu.
Dia adalah Perjuangan : gerak manusia yang menginginkan perubahan dalam hidupnya, disertai keyakinan yg kuat disanubarinya. Namun lagi-lagi menemui kendala di tengah jalan, karna beberapa faktor yang sudah tidak mudah lagi untuk dikondisikan dan tiap manusia memang memiliki titik lelah dalam hidupnya termasuk saya, lagi-lagi menjadi samar, dan (seolah) menemui jalan buntuh untuk arah langkah selanjutnya.

* Sebelum samar “DIA” begitu terang. Dulu.
Dia adalah Doa : Selain beriktiyar manusia memang hendaknya melakukan doa dalam tiap langkah hidupnya. Agar apa yang diinginkan bisa terwujud, agar tiap langkahnya menjadi berkah untuk yang lainya, berharap tuhan mau sedikit repot dengan kita (manusia) yang hina ini karna gairah duniawi yang terlalu berlebihan, lantas segera mengabulkanya. Namun lagi-lagi kita lelah, lelah untuk berjalan, lelah untuk berjuang hingga lelah untuk berdoa. Mungkin tuhan benar-benar murka, dan segala doa kita hanyalah seonggok tumpukan doa-doa dari para pendosa didunia. Yang entah sampai kapan akan terjawab.

Pikirkan & Renungkan.
* Sudah benarkah “harapan” kita, ? Harapan yang tulus untuk kebahagiaan bersama, harapan yang adil tanpa mengedepankan ego semata, agar tidak ada yang terluka, agar tidak ada lagi yang kecewa. Kadang manusia sering lalai untuk itu, dan sering mengharapkan sesuatu yang pada dasarnya sangat bertentangan dengan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku.

* Sudah tepatkah arah “perjuangan” kita ? Perjuangan yang tulus mengedepankan toleransi tanpa ada bumbu-bumbu konspirasi untuk memperkaya beberapa golongan sendiri dan menzalimi beberapa golongan yang lainya.

* Sudah pantaskah “Doa” yang terpanjatkan ? Bukankah tuhan adalah maha mendegar, pun maha tahu segalanya. Mungkin doa kita selama ini adalah doa yang mengedepankan gairah dunia mengkesampingkan ketentraman hati hingga tuhan menjadi malas untuk sekedar intervensi.

Note : Harapan, Perjuangan & Doa manusia yang belum terjawab. Sebelum samar dia begitu terang, dulu. Sekalipun mungkin saat ini samar bukan berarti berhenti untuk menjadikanya lugas. Hanya saja setiap insan manusia memang memiliki masa-masa terlelah dalam hidupnya. Diam sejenak, meratap, nikmati momentnya. Tapi jangan sampai terhanyut dan larut didalamnya. Dewasa bukan mengingkari kesedihan, lantas keluar mencari bahagia palsu seperti yang dipaparkan mayoritas. Dewasa adalah pemikiran yang tenang, sikap yang bijaksana, dan masterpiece manusia yang tertunda. Semangat. Kita pasti bisa.

Dunia dalam tanda tanya ( ? ) 
Manusia sebagai pelaku-NYA.