Perang dunia jilid 3 ???

​Apa jadinya jika perang dunia jilid III terjadi ???


Jawaban ter-optimis dan cukup masuk nalar sehat “mengkesampingkan pikiran jahat maupun pikiran mesum” 

(Gak AKAN pernah terjadi perang dunia jilid III) 

# Lalu untuk apa akhir-akhir kemarin negara blok timur maupun blok barat pamer senjata uji coba nuklir mereka ?? (Anggap saja norak, ingin dapat pengakuan dunia bahwa mereka bisa membuat senjata nuklir maha dasyat untuk menciptakan kiamat dadakan, kiamat kecil setingan manusia)

# yakin lu nja ?? Yang bener !!! (Menurut ajaran sejak lahir, hendaknya kita memang harus yakin dengan hal-hal yang optimis dan membangun. Sekalipun dalam hati ragu tapi jangan dinampakkan depan media. Karna itu bisa bahaya, siapa tau ada jurnalis atau wartawan yang hobinya propaganda secara kebetulan perlu dana untuk melunasi cicilan kulkas mereka. Tamat kita !!!)

# ah lu bisa aja ngelesnya, super banget. Asal lu tau ya, negeri ini berada di tengah-tengah antara blok barat dan blok timur. Sekalipun nantinya “mungkin” kita bersikap netral terhadap kedua kubu yang sedang berperang, mau atau gak mau, suka ataupun gak suka nantinya pasti kita akan menentukan pilihan untuk membela blok mana yang perlu di bantu agar memenangkan peperangan. Karna hanya sebuah alasan konyol bin gila yang pernah terbaca menyebutkan negeri ini sangat strategis untuk dijadikan arena perang, mengingat luas wilayah yang memadai, serta SDA yang mumpuni untuk pangan pelaku perang. (Daya halu -nya terlalu ekstrim lu, suka nonton rambo sih. Lu kira perang enak ? Bisa tembak-tembakan sambil lari-larian menyelamatkan janda-janda sexy yang kehilangan suaminya di medan tempur,, lalu menang,, kemudian memutuskan untuk poligami dengan alibi untuk mengayomi janda sexy,, lalu beranak pinak kembali layaknya kelinci,, di peradaban yang baru, yang jelas tidak akan mengkiblatkan dollar lagi dan happy ending !!! Itu kalau menang,, lah kalau kalah ?? Bisa ngemper kolong jembatan lu, ndempis kayak tikus got yang takut diterkam kucing kudis.)

# makanya itu, kita juga harus punya plan jangka panjang mulai sekarang serta mempertimbangkan semua probabilitas yang ada dalam peperangan yang mungkin saja bisa terjadi sewaktu waktu, berpikir cerdas kira-kira blok mana yang akan menang, itu yang akan kita bela. Biar kita bisa merdeka sekali lagi..hahahaaaa (ah,, elu,, generasi muda macam apa lu ini, selalu saja membudak demi kenyamanan serta keamanan diri sendiri hingga melupakan harga diri !!! Asal lu tau ya, sekalipun mungkin daya halu -nya elu bener kejadian,, dan,, jedeueerrr,,, perang dunia III pecah, kita gak perlu takut. Kita punya jutaan militer yang teruji ko untuk stabilitas negara, belum lagi ribuan para dukun sakti yang cukup hanya dengan rapalan mantranya bisa kebal senjata dan bisa kirim teluk atau santet, ditambah lagi pasukan ormas yang cinta kekerasan dlsb yang bersifat mahaberani mati. Gw yakin tinggal call-call mereka aman dah negara. Jadi lu gak usah repot mikir gimana nanti kalau perang dunia III bener terjadi, mending lu mikir gimana cara untuk segera halalin berta, kasian denger curcol doi yang lu suruh nungging tiap minggu tapi kagak di sah-sahin. Wuhahahahaaa…!!!)

# setan lu, gua ajak mikir serius demi bangsa dan negara, lu malah bahas berta endingnya…(kenapa gua yang jadi setan, lu yang sesat padahal !!! Andai saja dunia ini memang milik lu dan moyanglu dan cukup sanak sodara lu yang menghuni, lu bebas aja ber-delusi seperti itu, lu bebas mau nentuin perang dunia dalam sebulan 5x juga gak ada soal, toh yang akan jadi korban cuma sanak famili keluarga elu. Lah disini kita ngomongin dunia dalam konteks nyata, dunia yang memang semakin amburadul, semakin tua dan rentan karna keserakahan manusia yang selalu merasa kurang puas dalam hidupnya. Sekalipun begitu janganlah membuat kiamat dengan cara peperangan berjuta umat, cukup mereka yang pikiranya kerdil, yang tak pernah bisa terima perbedaan sekaligus demen berantem dan saling bunuh. Kita jangan !!! Perang bisa dihindari jika mulai sekarang kita tidak lagi memaksakan kebeneran kita terhadap persepsi pembenaran yang lain, tak perlu lagi berebut dalam bentuk apapun dari semua aspek yang bisa menumpulkan nurani ideologi diri kita sebagai manusia, percaya saja jika DIA itu adalah MAHA segalanya. Saling mengasihi sesama makhluk-NYA, menjaga keutuhan ciptaan-NYA serta mengamalkan pemberian-NYA. Jika seluruh ras manusia bisa sadar diri lalu menjalankan titah agung milik-NYA tersebut gua pikir delusi konyol lu itu akan selamanya cuma ada dalam awang-awang lu saja. Dan akan…)

# Stop !!! Sudah-sudah cukup, jangan diterusin wacana lu. Abis waktu gua. Mending mikirin atraksi baru untuk berta biar kagak monoton 69 mulu. Hahaaa. (Hashhh…sialan)

Iklan

Dia Adalah….

Sebelum samar “DIA” begitu terang, Dulu.

Satu kalimat, Satu kata. Banyak makna, mari ber-intuisi. Silakan bebas mengartikan tentang “DIA” dalam setiap pemahaman nalar kalian, bahwa memang tak bisa dipungkiri jika hidup hanyalah menunda kekalahan.

Saya sendiri mengartikan DIA dengan harapan, perjuangan, dan doa yang belum terjawab.

* Sebelum samar “DIA” begitu terang. Dulu.
Dia adalah Harapan : sebuah ketidakmungkinan yg bisa terjadi dalam semalam, dengan sekuat tenaga saya selalu memberi asa dalam tiap langkah saya, agar ketidakmungkinan itu bisa terijaba. Namun pasti ada kendala dalam setiap perjalanan hidup manusia seakan harapan yang dulu begitu nyata tiba-tiba menjadi samar. Dan menghilang.

* Sebelum samar “DIA” begitu terang. Dulu.
Dia adalah Perjuangan : gerak manusia yang menginginkan perubahan dalam hidupnya, disertai keyakinan yg kuat disanubarinya. Namun lagi-lagi menemui kendala di tengah jalan, karna beberapa faktor yang sudah tidak mudah lagi untuk dikondisikan dan tiap manusia memang memiliki titik lelah dalam hidupnya termasuk saya, lagi-lagi menjadi samar, dan (seolah) menemui jalan buntuh untuk arah langkah selanjutnya.

* Sebelum samar “DIA” begitu terang. Dulu.
Dia adalah Doa : Selain beriktiyar manusia memang hendaknya melakukan doa dalam tiap langkah hidupnya. Agar apa yang diinginkan bisa terwujud, agar tiap langkahnya menjadi berkah untuk yang lainya, berharap tuhan mau sedikit repot dengan kita (manusia) yang hina ini karna gairah duniawi yang terlalu berlebihan, lantas segera mengabulkanya. Namun lagi-lagi kita lelah, lelah untuk berjalan, lelah untuk berjuang hingga lelah untuk berdoa. Mungkin tuhan benar-benar murka, dan segala doa kita hanyalah seonggok tumpukan doa-doa dari para pendosa didunia. Yang entah sampai kapan akan terjawab.

Pikirkan & Renungkan.
* Sudah benarkah “harapan” kita, ? Harapan yang tulus untuk kebahagiaan bersama, harapan yang adil tanpa mengedepankan ego semata, agar tidak ada yang terluka, agar tidak ada lagi yang kecewa. Kadang manusia sering lalai untuk itu, dan sering mengharapkan sesuatu yang pada dasarnya sangat bertentangan dengan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku.

* Sudah tepatkah arah “perjuangan” kita ? Perjuangan yang tulus mengedepankan toleransi tanpa ada bumbu-bumbu konspirasi untuk memperkaya beberapa golongan sendiri dan menzalimi beberapa golongan yang lainya.

* Sudah pantaskah “Doa” yang terpanjatkan ? Bukankah tuhan adalah maha mendegar, pun maha tahu segalanya. Mungkin doa kita selama ini adalah doa yang mengedepankan gairah dunia mengkesampingkan ketentraman hati hingga tuhan menjadi malas untuk sekedar intervensi.

Note : Harapan, Perjuangan & Doa manusia yang belum terjawab. Sebelum samar dia begitu terang, dulu. Sekalipun mungkin saat ini samar bukan berarti berhenti untuk menjadikanya lugas. Hanya saja setiap insan manusia memang memiliki masa-masa terlelah dalam hidupnya. Diam sejenak, meratap, nikmati momentnya. Tapi jangan sampai terhanyut dan larut didalamnya. Dewasa bukan mengingkari kesedihan, lantas keluar mencari bahagia palsu seperti yang dipaparkan mayoritas. Dewasa adalah pemikiran yang tenang, sikap yang bijaksana, dan masterpiece manusia yang tertunda. Semangat. Kita pasti bisa.

Dunia dalam tanda tanya ( ? ) 
Manusia sebagai pelaku-NYA.

Biarkan Teman Imajiner Saya, Jangan Sirik!!!

Misalnya nih…

Misalnya lho… Saya adalah seorang bujang lapuk hopeless yang cuma punya pacar khayalan. Wajah cantikNya yang agak mirip celsea islan, saya bingkai dengan mewah. Wajah terbingkai itu selalu saya puja sebelum mandi dan saya peluk sebelum tidur. Walau dia  hanya ada dalam imajinasi saya sendiri, tapi keberadaannya saya jadikan motivasi untuk berbuat baik. Setiap perbuatan baik, saya jadikan persembahan bagi Dia Yang Terbingkai. Lalu semenah – menah anda muncul dengan sok tahu. 

Menjelaskan bahwa pacar saya itu cuma hayalan. Mengatai saya sedang berdelusi. Memvonis saya mencandu ilusi. Lantas dengan jumawa menyuruh saya segera sadar dan melupakanNya.
Dalam kasus seperti itu berarti Anda KURANG AJAR. 

Seenaknya mengintervensi keyakinan saya. Padahal keyakinan saya tidak merugikan Anda. Saya jelas tersinggung jika sumber semangat hidup saya, tujuan hidup saya, diganggu dan dipertanyakan.
Idealnya memang manusia tak bergantung pada tokoh-tokoh imajiner. Tapi kan, nyatanya tak semua bisa begitu. Menggeneralisir bodoh seperti itu sama saja seperti membenarkan seorang pendiri pabrik dildo yang memaki pengemis: “Pemalas! Jangan cuma ngemis! Sana bikin pabrik dildo sendiri!” Analoginya memang maksa, tapi Anda dapat maksudnya kan?
Generalisir bahwa semua orang dapat mandiri, itu gila. Kapasitas dan kesempatan orang berbeda. Adalah kenyataan bahwa tak semua manusia berhasil mandiri apalagi sampai bikin pabrik dildo sendiri. Banyak dari kita yang selamanya bergantung pada pihak lain. Ketergantungan bisa secara finansial, emosional, seksual, spiritual, dsb. Tempat bergelantungannya juga bisa sesama manusia, bisa teman imajiner, atau guru-guru berkualitas superhuman. Atau candu-candu.

Bagi kami yang suka bergelantungan pada teman imajiner, yang terpenting adalah tujuan dan semangat hidup yang kami dapatkan. Dan siapapun boleh saja mengklaim keberadaan apapun. Anda boleh beriman bahwa di luar angkasa ada vagina maha sempit yang selalu menghisap apapun kedalamnya, bahkan cahaya sekalipun. Atau meyakini bahwa di pusat bumi ada penis maha keras yang terus menerus memuntahkan magma. Tidak perlu ribut soal bukti yang mendukung (atau menentang) keberadaannya. Yang penting diimani, lalu berbuat baik dengan semangat pengabdian yang didapat dari keyakinan itu. Keyakinan saya pada keberadaan Tuhan, atau keyakinan Anda pada Dewa, Poci Sakti, Monster Spagheti dan apapun yang dianggap Maha Suci adalah salah satu diantara hak yang paling asasi. Hak beribadah juga asasi tidak jadi masalah walau Sang Hyang Pacar Imajiner saya mulai bikin perintah aneh-aneh untuk diterapkan. Misal, pacar imajiner saya minta agar lelaki harus pakai kondom bila keluar tanpa muhrim, yang tidak mau pakai maka tititnya harus dicabut sampai ke akar.

Selama hanya saya sendiri yang mentaati bagi diri saya sendiri, tanpa melanggar hak orang lain, tidak ada masalah. Bahkan jika teman-teman saya ikutan karena merasa senasib atau karena bersimpati pada nasib saya yang kelamaan jomblo sampai hampir gila, itupun tidak ada masalah. Munculnya ulama dan ulamawati yang mengendus-endus peluang dagang kondom juga tidak perlu diributkan.

Tapi…

Jika saya mulai mulai memaksa Anda atau siapapun untuk pakai bungkus karet tiap keluar rumah, apalagi sampai berusaha mengambil alih pemerintahan negara agar aturan suci dari pacar imajiner bisa saya tegakkan dan paksakan atas Anda semua… Maka saya yang pantas disebut kurang ajar. Konyol. Gila. Karena aksi pemaksaan yang mulai saya lakukan, maka Anda juga berhak (dan malah wajib) berusaha menyadarkan saya bahwa aturan gila tersebut tidak perlu dipaksakan ke orang lain. Kalau saya ngotot, Anda berhak untuk mempermasalahkan sumber aturan yang saya imani. Silakan kupas tuntas bagaimana keyakinan saya pada pacar imajiner itu sudah mulai bikin masalah. Ungkap gimana imajinasi saya sudah sampai pada taraf membahayakan masyarakat dan harus diperbaiki. 

Sebaiknya jangan cuma sebatas mengkritik atau dekonstruksi, apalagi sekedar menghujat. Cobalah kreatif dan memberi solusi. Berikan pada saya alternatif tempat bergelantungan yang lebih sehat agar tak lagi tergantung pada pacar imajiner yang sifatnya sangat merusak. Sukur-sukur kalau bisa mengubah saya jadi berani mandiri tanpa tergantung pada pacar imajiner.

Penting…
Jangan pernah tanpa alasan mempermasalahkan eksistensi pacar imajiner pujaan saya. Mendadak usil itu tampak seperti preemptive attack ala kafir paranoid. Hanya membuat Anda tampak seperti orang jahil kurang kerjaan. Hasilnya cuma ketersinggungan. Kemarahan. Kebencian. Dan perlawanan.

Harus jelas apa sebabnya anda harus usil. Jika saya dapat memahami bahwa kritik Anda adalah respon akibat saya memaksakan aturan gila, bukan semata usil, maka ada harapan untuk terjadinya dialog yang konstruktif diantara kita. Bahkan walau saya terlanjur bermutasi jadi fundamentalis haus darah, yang anti dialog, yang terobsesi maksa-maksa…. Tetap Anda punya harapan lebih besar untuk menyadarkan orang-orang yang bersimpati pada saya. Karena disitu posisi Anda adalah korban terzalimi yang membela diri, bukan agressor iseng yang menyerang dengan arogan. Para penyimak akan terpicu untuk berpikir, dan dapat melihat bahwa sayalah yang punya masalah kejiwaan, bukan anda yang jahil dan kurang kerjaan.

Mengkritisi berbagai pemaksaan dan penindasan akibat ajaran agama atau kecanduan rokok atau sebab apapun lainnya, sebaiknya juga mempertimbangkan saran-saran diatas,
 hehe.

Demikian.

Keracunan Internet, Sosmed, Idealistic Melting.

Semakin kesini kok semakin malas berpikir. Lihat berita menarik, langsung klik share. Kalaupun komentar sedikit, ujungnya tetap share. Tombol untuk mensosialisasikan apapun jadi fokus utama dari kegiatan online.

Jadinya seperti buruh rendahan di institusi pendidikan komersial yang kerjanya hanya meneruskan informasi. Sama-sama tanpa dicerna. Bedanya adalah mereka dibayar dan tampak keren, saya tidak.

Parahnya, baru klik share, atau like, sudah datang lagi gelombang informasi yang tak akan ada habisnya. Dan saya terus mangap, melahap semuanya dengan tatapan kosong.

Hari-hari yang mestinya meditatif dan kreatif berubah jadi hari sibuk tak jelas. Kebanjiran informasi. Seperti orang yang tak sadar makan terus dengan buasnya, terus menelan apapun hingga perut tak sempat mencerna. Sukses obesitas tanpa ada energi yang sampai ke otak, habis untuk jadi timbunan lemak… Eh… Timbunan informasi tak berguna.

Waktunya kembali ke ruang nakhoda. Lama sudah tak pegang kendali.

Saya sih pilih sipil ^ ^

“Dipimpin militer atau sipil?”
“Ya gimanapun pilih sipil lah! Kecuali kalau lawannya kaum radikal, baru gw pilih militer” Masih begitu terus pendapat banyak orang di banyak forum. Jadi wajar kalau militer selalu punya hubungan benci tapi cinta dengan kelompok radikal. Wajahnya kelihatan tak akur, tapi sering dicurigai ikut mendanai, membiarkan, atau diam-diam giat melestarikan.

“Usut siapa dibelakangnya, cari tahu siapa yang mendanai!” kata siapa itu, lupa saya…heheee…yang sepertinya yakin betul bahwa Polisi sebenarnya juga sudah tahu.

Mungkin benar, selama ini juga sudah tahu, tapi ya karena itu tadi. Terror dan kekacauan yang ditimbulkan kelompok radikal, memang menguntungkan militer. Memang berat sekali, kalau kita harus menolak sesuatu yang sangat lezat dan menguntungkan kita. Pasti lebih berat dari menolak keperawanan.

Jangan salah pilih, kita bosnya. Jika ada yang salah dalam sebuah instansi demokrasi berarti yang bodoh adalah kita yang memilih, kita sebagai bosnya demokrasi itu sendiri. Mereka yang duduk di ruang ber-ac dan beratribut rapi adalah pembantu kita.
Siapapun pemimpinya harus bisa berlapangdada untuk pekalah, jangan anarki !!! Pemenang sesungguhnya adalah mereka yang dewasa dalam hal pemikiran serta tindakan.
C…U
^___^

Bukan saatnya untuk memuja kelamin belaka !!!

​Kapan nih kita ketemuan? Udah lama tidak memuja kelamin bareng-bareng..

Bukankah kita sudah terlalu dewasa untuk itu?



Terlalu dewasa untuk memuja kelamin? Lu masih normal kan?

Ya masih. Tapi kita sudah dewasa, memuja-muja itu kan bagi mereka yang belum cukup umur.



Maksud lu?

Ya persis seperti bertuhan. Memuja-muja tanpa menyentuh, sambil teriak-teriak, itu cuma dilakukan oleh mereka yang belum dewasa. Sekedar ditunaikan membabibuta demi mimpi mendapat surga di alam kapan-kapan kalau sudah mati.

Emang kalau dewasa gimana?

Mereka yang dewasa tidak lagi sebatas menjerit-pilu-memuja Tuhan dari jauh, tapi levelnya sudah memeluk erat dan mencengkeram leher Tuhan, lalu menggunakannya untuk meraih surga. Sekarang juga di dunia. Tidak perlu menunggu mati dulu.

Haaa, kok bisa? Menggunakan Tuhan untuk meraih surga saat ini juga? Gimana tu?

Orang yang keberketuhanannya sudah dewasa mampu mengarahkan Tuhan untuk memanipulasi pikiran orang yang belum dewasa. Di bawah kendali mereka, Tuhan bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, mulai dari menimbulkan rasa damai, semangat, optimisme, rasa syukur… dan bisa juga untuk membangkitkan kebencian, kemarahan dan memicu amuk massa.




Ah, teoriiii… Ada contoh nyata?

Lha itu, pemimpin ormas pecinta kekerasan. Perhatikan betapa lihai mereka membangkitkan kebencian dan kemarahan. Mereka mampu memanfaatkan Tuhan untuk memicu murka ribuan massa agar menyerang siapapun yang mereka tak suka. Perhatikan juga gimana motivator rohani lihai jualan Tuhan sehingga seminar-seminarnya laku keras. Atau penceramah kampung yang suka blokir jalan sampai lu susah pulang, atau suka jerit-jerit di panggung sampai bikin lu susah tidur, dia itu pandai menggunakan Tuhan untuk meraup beramplop-amplop rupiah. Atau yang baik, mampu menggunakan Tuhan untuk mengumpulkan milyaran rupiah demi membantu fakir miskin yang ditelantarkan negara.

Yeee, itu agama kaleee, bukan Tuhan.

Apa bedanya? Ketika sesuatu dianggap sebagai paling suci, bukankah itu menjadi Tuhan? Lagian yang gw bahas bukan “Tuhan itu apa”, tapi bagaimana “bertuhan”, secara lugu dan secara dewasa, dalam rangka menjelaskan tuduhan gw atas proposal pemujaan kelamin lu ituuuh… 

Ooooh, ok. Kenapa gw tersesat ya barusan, hehe. Trus kaitannya apa sama pemujaan kelamin? Cara memuja yang dewasa tu gimana?

Ya jangan cuma dipuja-puja. Tapi dipakai. Pergunakan secara tepat untuk meraih tujuan-tujuan lu. Untuk menciptakan surga di bumi 🙂

I see…. Tentunya surga versi gw ya?

Tul! Gih sana cari partner atau cari umat!




Dasar setan.!!!

Kenapa jadi setan? Gw kan cuma menyampaikan pendapat gw doang.




Ya setahu gw, setan itu simbol keingintahuan, pemberontakan dan kehausan akan pengetahuan. Kisah Adam Hawa tuh, coba ingat. Seandainya Adam dan Hawa tidak tergoda setan untuk “ingin tahu” dan makan buah “pengetahuan”, selamanya manusia cuma jadi budak yang cuma bisa patuh dan taat pada (para pengendali) Tuhan. Tidak bakalan berkembang. Selamanya nyaman dalam surga ketidaktahuan. Untung setan rela berkorban, dimurkai dan dijanjikan neraka yang kekal abadi demi menggoda manusia dengan pengetahuan.

Waw, keren tuh cerita. Memang keingintahuan dan pengetahuan bisa bikin gelisah. Asli neraka banget tuh.




Blah. Ya sudah, kapan nih ketemuan? Sabtu? 

Umm… Kalau Tuhan mengijinkan yaaa…




Ngapain lu melibatkan Tuhan?

Sekedar mempersiapkan Tuhan saja. Kalau ternyata nanti batal ya artinya Tuhan tidak mengijinkan, lu tidak perlu menyalahkan gw yang lugu tak berdosa ini, silakan langsung menyalahkan Tuhan saja, gitu…




Hmmm… baiklah… SETAN!

hahahahaaaa..

Celoteh minoritis indie, marjinal yang merdeka.!! Feodal Songong.!!

“Bebas” dan “Merdeka” itu saudara kembar. Tapi saya lebih suka yang terakhir kata “merdeka”. Rasanya lebih kaya. Juga kalau dibanding dengan padanannya dalam bahasa Inggris, “ free” atau “ liberal ”. Sebenarnya saya kasihan dengan kata “ liberal ”, yang sering diperlakukan tidak adil di Indonesia. Untuk beberapa kalangan kata ini sepertinya masuk golongan paria. Kasihan deh.

Saya agak kurang sreg dengan kata “bebas” karena kata bebas sudah dipoligami dengan tidak senonoh oleh orde baru sampai kehilangan identitas dan harus hidup satu atap dengan madunya “tanggungjawab”, “kebebasan yang bertanggungjawab”, mirip istri tua dan istri muda yang tak rukun. Ya ada rukunnya, kadang. Tapi masalahnya, siapa yang menentukan ukuran tanggungjawab itu? Bos di kantor. Guru di sekolah. Orangtua di rumah. Penguasa. Politikus. Ketua Partai. Ketua Forum. Ketua Dewan. Massa yang mengamuk ? Istilah “bebas yang bertanggungjawab” itu rawan dimanipulasi oleh mereka yang syahwat kekuasaannya over dosis.

(Intermezzo: tahukah Anda kata Indonesia yang diserap dalam bahasa Inggris? Yang saya tahu ada 4: “ sarong”, “ orangutan ”, “ sate ” dan “ amok ”. Kalau dijadikan satu, jadilah gambaran sinis tentang masyarakat Indonesia yang suka muncul di berita-berita asing: orang utan yang sudah pakai sarung, suka mengamuk dan menyate! )
Nah, kata “merdeka” rasanya masih lebih aman, setidaknya sampai sekarang. Silakan tempelkan kata itu ditempat dia suka. Berpikir merdeka. Bertindak merdeka. Menulis merdeka. Dan seterusnya, silakan merdeka dalam menggunakan kata merdeka, semerdeka-merdekanyalah.
Merdeka tentu tidak sama dengan berbuat semaunya. Mau terbang. Emang bisa? Jelas gak bisa.

Buat saya, merdeka itu artinya bukan itu. Saya punya pikiran, punya tubuh, punya masa lalu-kini-nanti. Betul, semua itu terbatas. Tapi dimana batasnya? Saya tidak pernah tahu batasnya. Hanya kalau saya melakukan eksplorasi, menyelami rahasia-rahasianya, saya mungkin ketemu batasnya. Tapi sampai sekarang saya belum sampai tuh ke perbatasan kemanusiaan saya. Saya percaya Tuhan Serba Maha. Dan saya ingin mengenalNya dengan cara mengeksplorasi apa yang sudah diberikan. Saya tidak sedang menantangNya. Saya sedang bersyukur, mengagumiNya kok dengan melakukan wisata ekplorasi ini.

Bagi saya merdeka, berarti mengeksplorasi pikiran, bakat, tubuh, hati, alam sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya. Saya mau pergi sampai keperbatasan saya. Itulah merdeka. Dengan semangat seperti itu, saya membaca semua teks-teks suci maupun tidak suci, surfing semua web yang senonoh maupun tidak senonoh, bertemu dengan tokoh besar atau kecil, yang buat saya semuanya besar dan memperkaya saya. Pokoknya siapa saja, termasuk membuka blog anda para bloggers yang suka kasih komentar maupun tidak. Anda tahu saya suka menjenguk dan memberi salam di blog Anda.

Ketika saya memilih menjadi merdeka itulah saya bisa bertemu dengan banyak pemikiran, keahlian dan permenungan yang justru memperkaya saya. Saya, anda, kita, memang terbatas. Tetapi ternyata batas saya terus diperluas, diperlebar, dan diperdalam, ketika saya mau menjadi merdeka. Lalu, apalagi akhirnya, kalau bukan saya malah tambah kagum dan hormat padaNya dan pada anda semua yang terus memperkaya kemanusian saya? So, mari berpikir merdeka, bertindak merdeka dan menulis merdeka.

Ada yang gak setuju? Terserah lah kalau masih juga ada yang mau mengharamkan. Tapi kalau tidak boleh pakai kata merdeka, emang kita mau dijajah Belanda lagi?